Saturday, August 16, 2014

DARI ISTIGHFAR KE TOBAT 17 AGUSTUS 14

DARI ISTIGHFAR KE TOBAT ISTIGHFAR KE TOBAT REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Nasaruddin Umar Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar Istighfar adalah ungkapan spontanitas seorang hamba yang baru saja menyadari kekhilafannya dengan mengucapkan kalimat istighfar, misalnya astagfirullah al-’adzim. Sedangkan, tobat lebih dari sekadar mengucapkan lafaz istighfar, tetapi menuntut persyaratan lebih banyak. Jadi, jelas tobat lebih berat daripada istighfar. Al-Qusyairi dalam risalahnya membagi tobat itu menjadi tiga macam, yaitu 1) Tobat dari segala kesalahan dan dosa, inilah tobatnya orang awam; 2) Tobat dari kelalaian untuk mengingat Allah SWT, inilah tobatnya orang khawas; 3) Tobat dari penglihatan terhadap segala kebaikan, inilah tobatnya orang khawas al-khawas. Orang yang tobat karena takut siksaan disebut tobat. Orang yang tobat karena ingin meraih pahala, disebut inabah, dan orang yang tobat bukan karena takut neraka atau mengejar pahala, tapi hanya semata-mata karena menuruti perintah disebut aubah. Syekh Muhammad bin Abi Bakar bin Abd Kadir Syamsuddin al-Razi (660 H) dalam Haqaiq al-Haqaiq, membagi tobat itu kepada dua bagian besar. Pertama, tobat orang awam, yaitu kembali dari segala kemaksiatan menuju kepada ketaatan dengan cara meninggalkan (pengaruh dan keterikatan) dunia dan mencari kehidupan akhirat. Kedua, tobat khawas, yaitu kembali dari mencari akhirat dan kenikmatan surga menuju pada ibadah kepada Allah hanya semata karena zat-Nya yang Mahasuci, bukan karena mencari pahala dan bukan pula karena takut akan siksaan. Oleh karena itu, tobatnya masyarakat awam justru sebagai sebuah dosa bagi kalangan orang khawas, sebagaimana dalam hadis, “Kebaikan orang-orang saleh merupakan kejahatan orang-orang muqarrabin.” Kemudian al-Khawas ia bagi dua lagi, yaitu al-Arifun dan al-Muqarrabun. Al-Muqarrabun ialah mereka yang masuk kategori hawas al-khawas. Tobat pada bagian pertama di atas merupakan tanjakan awal dalam menempuh jalan menuju Allah dan maqam (tahapan) awal dalam mencari ridha Allah. Sesungguhnya Allah selalu mendorong manusia agar segera bertobat. Dalam firman-Nya disebutkan, “Jika Allah mencintai seorang hamba maka dosa itu tidak akan memberi mudarat pada dirinya.” Lalu, beliau membaca ayat tersebut (QS al-Baqarah [2]:222). Maksudnya, Allah memberi taufik kepadanya untuk bertobat dan Allah menerima tobatnya maka dosa yang pernah dilakukan sebelum tobat itu, tidak ada lagi melekat pada dirinya. Nabi SAW juga selalu memotivasi untuk segera bertobat, sebagaimana dalam sabdanya, “Orang yang bertobat seperti orang yang tak berdosa”. Dalam hadis lain dikatakan, “Tak ada sesuatu pun yang lebih dicintai Allah, daripada seorang pemuda yang bertobat.” Rasulullah SAW pernah ditanya istrinya, Aisyah RA, “Mengapa engkau menghabiskan waktu malammu untuk beribadah, bukankah engkau seorang Nabi yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT?” Rasulullah menjawab singkat, “Apakah aku tidak termasuk hamba yang bersyukur?” Dari sini bisa dipahami bahwa porsi makna tobat tidak hanya sekadar pembersihan diri dari dosa dan maksiat, tetapi lebih banyak bermakna mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT (taqarrub ilallah). Inabah yang merupakan sifat dasar al-tawwabin, sesungguhnya menjadi ciri khas para wali dan para orang dekat Tuhan (muqarrabin). Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Alquran, “Wa ja’a bi qalbin salim (Dan dia datang dengan hati yang bertobat).” (QS Qaf [50]: 33). Selain inabah, juga dikenal istilah lain, yaitu aubah merupakan sifat para Nabi dan Rasul, sebagaimana firman-Nya, “Ni’mal ‘abd innahu awwab” (Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya ia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS Shad [35]: 44).

MAKNA BISMILLAH 17 AGUST 2014

MAKNA BISMILLAH MAKNA BISMILLAH BISA DIMAKNAI SEBAGAI NIAT AWAL UNTUK SUNGGUH SUNGGUH IKUTI ATURAN ALLAH SWT. MENGIKUTI ATURAN ALLAH Oleh: KH Athian Ali Dai Pada tulisan sebelumnya telah dipaparkan bahwa mengimani Allah tidak boleh sepotong-sepotong. Karena itu, seseorang baru bisa dikatakan beriman jika dia telah menerima semua aturan Allah sebagai kebenaran mutlak, tanpa pengecualian. Pada zaman dahulu, Bani Israil telah menyaksikan langsung tanda-tanda kebenaran Allah SWT. Salah satunya adalah dengan mencicipi lezatnya hidangan surga yang diturunkan Allah ke bumi untuk mereka. Bahkan, mereka pernah pula diizinkan untuk mendengarkan suara Allah tatkala berfirman kepada Nabi Musa AS. Akan tetapi apa yang terjadi dengan Bani Israil? Mereka tetap saja ingkar kepada Allah. "Kami hanya akan mengikuti aturan-aturan Allah selama hal itu sejalan dengan hawa nafsu kami. Sementara, jika aturan itu bertentangan dengan nafsu kami, maka kami tidak bisa menerimanya," begitu kata mereka kepada Nabi Musa AS. Hal ini membuat Allah murka, sehingga turunlah QS Al Baqarah ayat 85. "Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat." Penggalan ayat di atas secara tegas mengingatkan kepada kita bahwa mengimani Allah berarti menerima sepenuhnya aturan-aturan-Nya. Jika ada satu saja aturan Allah yang kita tolak kebenarannya, maka alamat kita telah keluar dari golongan orang-orang beriman. Naudzubillahi min dzalik. Sebagai contoh, jika seorang Muslim yang meninggalkan shalat fardhu karena malas, tapi di dalam hati dan ucapannya tetap mengakui ibadah itu sebagai aturan yang benar, maka dia masih disebut orang yang beriman. Kita tidak bisa menghukumnya sebagai orang kafir. Meskipun demikian, orang tersebut tentu saja akan menanggung dosa lantaran melanggar perintah Allah. Karena, sejatinya Muslim itu tidak boleh meninggalkan shalat. Lain halnya dengan orang yang mengaku Muslim, tapi meninggalkan shalat fardhu karena menganggap perintah Allah itu tidak benar. Orang semacam ini sesungguhnya bukan bagian dari golongan Mukminin. Begitu pula dengan mereka yang mengaku beriman, tapi secara terang-terangan malah menyangkal kebenaran aturan Allah yang terdapat di dalam Alquran dan Hadis. Orang-orang seperti ini jelas sesat dan menyesatkan. Di Indonesia, jumlah kelompok pengusung paham menyimpang seperti mereka amatlah banyak jumlahnya. Karena itu, sebagai umat Muslim, kita mesti berhati-hati agar pemahaman mereka tidak merusak akidah kita.

KENAPA ADA KEJAHATAN 17 AGUSTUS 2014

KENAPA ADA KEJAHATAN KEJAHATAN ADA BUKTI ADANYA IMAN YANG LEMAH MARAKNYA KEJAHATAN PERTANDA LEMAHNYA IMAN Oleh: KH Athian Ali Dai Salah satu misi risalah Islam yang diemban Nabi Muhammad SAW adalah menyempurnakan akhlak manusia. Baik itu akhlak kepada Allah SWT, diri sendiri, orang lain, maupun akhlak terhadap lingkungan. Karena itulah, Allah membimbing Rasululllah agar ‘memanusiakan’ kembali masyarakat jahiliyah yang sudah luar biasa rusak moralnya. Untuk mencapai misi tersebut, hal pertama yang dilakukan Rasulullah adalah menanamkan prinsip-prinsip akidah Islam kepada umatnya. Lebih dari separuh periode risalah beliau dihabiskan untuk dakwah tauhid ini saja. Hasilnya, para sahabat yang hidup pada zaman itu mampu meraih taraf keimanan yang tinggi, sehingga mereka pun mencintai Allah dan rasul-Nya di atas segala-galanya. Dari situ kita jadi tahu, akidah yang kuat menjadi pondasi utama dalam membentuk akhlak Mukmin. Seorang yang benar-benar beriman akan mencintai apa pun yang dicintai Allah. Dia pun akan melakukan hal-hal yang diridhai Allah saja dan menjauhi segala perbuatan yang dimurkai Tuhannya. Rasulullah pernah bersabda, “Tidak akan pernah berzina seorang pezina kalau dia dalam keadaan beriman. Tidak akan pernah mencuri seorang pencuri kalau dia dalam keadaan beriman. Tidak akan minum khamar pula seorang peminum khamar jika dia dalam keadaan beriman.” (HR Bukhari). Dalam riwayat lainnya, “Iman itu laksana pakaian yang Allah kenakan kepada hamba-Nya. Bila seorang berzina, maka lepaslah pakaian tersebut. Bila dia bertobat, maka dikembalikan lagi pakaiannya.” (HR Baihaqi). Pada dua hadis di atas, Rasulullah telah menafikan maksiat bisa menyatu dengan keimanan. Jadi, tidak mungkin seseorang mengaku beriman, jika pada saat yang sama dia melakukan hal-hal yang dilaknat Allah. Jika seorang Mukmin melakukan maksiat, maka berarti ketika itu dia tengah mengalami krisis keimanan yang luar biasa. Kondisi inilah yang sedang dihadapi masyarakat kita sekarang. Dalam berbagai pemberitaan akhir-akhir ini, kita mendengar kejahatan seksual marak terjadi di mana-mana. Termasuk di antaranya kasus pelecehan, perkosaan, incest, hingga paedofil (berhubungan badan dengan anak-anak). Bahkan, menurut sebuah catatan, ada satu pelaku sodomi di Sukabumi yang diperkirakan sudah ‘memangsa’ lebih dari seratus bocah. Ini sangat mengerikan! Perbuatan keji di atas hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman. Akhlak mereka bahkan lebih rendah dari hewan. Ayam jantan saja tidak akan mau menggauli anak ayam yang masih kecil. Pun, kucing dewasa enggan melakukan hubungan badan dengan anak kucing. Masihkah layak mereka disebut manusia yang beriman? “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS al-A’raf: 179). Pembaca yang budiman, berbagai kejahatan seksual dan akhlak buruk yang merebak belakangan ini berawal dari lemahnya akidah umat. Sayangnya, dakwah yang ada saat ini masih jarang sekali menyasar ke arah pembenahan akidah seperti yang telah diajarkan Rasulullah SAW dan para sahabat. INFO KEGIATAN PERWIRA JOGJA KE: 085 743 141 067

Wednesday, August 6, 2014

24.MEMILIH PEMIMPIN 3 JANUARI 2015

MEMILIH PEMIMPIN SUAMI PEMIMPIN ISTRI DAN ANAKNYA REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: A Ilyas Ismail Menurut Imam al-Mawardi, ada dua fungsi utama kepemimpinan yang menunjukkan pentingnya kepemimpinan itu, yaitu menjaga agama (khirasat al-din) dan mengelola urusan dunia (siyasat al-din). Maka memilih pemimpin atau membangun kepemimpinan (nashb al-imamah), bagi pakar hukum tatanegara Islam ini, wajib hukumnya, baik secara syar`i maupun `aqli. Dalam bahasa Arab, memilih itu disebut al-Ikhtiyar, berasal dari kata khair, yang secara harfiah berarti baik [terbaik]. Jadi, memilih itu adalah kegiatan mencari dan menetapkan sesuatu yang terbaik (making the best choice). Untuk itu, pemilih mesti memiliki dan memenuhi persyaratan-persyaratan. Persyaratan yang mula-mula bagi pemilih, menurut al-Mawardi, adalah adil dalam pengertian yang sebenarnya (al-jami`ah li syuruthiha). Adil di sini berarti pemilih memiliki moral dan keluhuran budi pakerti, sehingga ia tidak memihak kepada calon tertentu, tetapi memberikan penilain secara jujur dan objektif kepada semua calon. Adil juga berarti menjatuhkan pilihan [setelah melakukan penilain] kepada calon yang dianggap terbaik, tanpa bisa dipengaruhi oleh money politic alias tak bisa dibeli dan disuap. Menjatuhkan pilihan karena uang (suap) adalah tindakan tercela bahkan terkutuk. Rasulullah SAW mengutuk penyuap dan yang disuap (la`natulllah `ala al-Rasyi wa al-Murtasyi). (HR. Abu Dauda, Thirmidzi, dan Nasa’i). Pesyaratan berikutnya ialah pemilih mesti mengetahui dengan pasti siapa yang akan dipilih. Jangan sampai ia memilih kucing dalam karung. Pengetahuan ini, menurut al-Mawardi, harus mengantar pemilih menjatuhkan pilihan kepada orang yang tepat atau orang yang ashlah, yaitu orang yang akan membawa kebaikan lebih besar bagi kemajuan bangsa. Ada beberapa hal yang mesti diketahui pemilih. Pertama, visi, misi dan program sang calon. Kedua, komitmen dan kesungguhannya. Ketiga, kapabilitasnya dalam ikhtiar mewujudkan visi dan misi. Ini terkait dengan keterampilan manajemen dan kepemimpinan sang calon. Keempat, track record (rekam jejak)-nya. Pada era sekarang, pemimpin bukan dewa atau ratu piningit yang turun dari kayangan. Ia sejatinya manusia biasa, anggota dari masyarakat, dengan sedikit kelebihan baik secara moral, intelektual, maupun spiritual. Karena itu, rekam jejaknya mesti jelas. Persyaratan yang berikutnya lagi ialah pemilih mesti cerdas (waras) dan arif. Dengan cerdas, pemilih benar-benar menggunakan hak pilihnya secara benar dan penuh rasa tanggung jawab untuk kemaslahatan bangsa. Ia tidak menjadi golongan putih (golput), dan tidak pula menjadi petualang atau pengacau yang memancing di air keruh hanya untuk memenuhi syahwat politiknya sendiri. Dengan arif, ia ikut serta menciptakan suasana yang kondusif agar pemilihan pimpinan berjalan damai dan sukses. Terakhir, pemilih seyogiyanya berdoa kepada Allah SWT, memohon bimbingan dan petunjuk-Nya, agar pilihannya tepat. Firman Allah: Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran [3]: 26). Wallahu a`lam!

23.AMPUNAN ALLAH 27 DESEMBER 2014

HARI AMPUNAN ALLAH SWT SUNGGUH SENANG JALANI HIDUP DALAM AMPUNAN ALLAH SWT REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Ahmad Dzaki MA Alhamdulillah, saat ini kita berada pada 10 hari kedua bulan suci Ramadhan. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAWw disebutkan 10 hari kedua di bulan Ramadhan adalah hari-hari turunnya ampunan Allah SWT (ayyamul maghfirah). Dalam kehidupan ini, kita banyak melakukan perbuatan dosa. Mata kita pernah melihat hal-hal yang dilarang, telinga kita pernah mendengar hal-hal yang dilarang, mulut kita pun pernah membicarakan hal-hal yang dilarang agama. Begitu juga tangan kita sering berbuat dosa, kaki kita juga pernah melangkah ke tempat-tempat yang dilarang, dan masih banyak anggota tubuh kita yang lain yang berpotensi melakukan perbuatan dosa. Kalau kita hitung dalam sehari, lebih banyak perbuatan dosa yang kita lakukan daripada perbuatan baik. Seandainya perbuatan kita bisa ditimbang di dunia ini, pasti akan lebih berat perbuatan jelek daripada perbuatan baik, namun sayang di dunia tidak ada timbangan amal , yang ada timbangan amal hanyalah di akhirat kelak. Karena itu, kita harus memanfaatkan 10 hari kedua bulan Ramadhan ini dengan banyak bertaubat kepada Allah SWT, minimal kita harus banyak membaca istighfar. Jangan dihitung-hitung bacaan istighfar kita, karena dosa-dosa kita juga tak terhitung saking banyaknya, selain itu kita juga harus banyak melakukan shalat sunat taubat, memohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa yang telah kita perbuat. Kalau kita banyak berdosa kepada Allah, maka cara untuk melebur dosa adalah dengan bertaubat kepada Allah SWT. Sekaranglah waktunya di 10 hari kedua bulan Ramadhan. Jika kita memiliki salah dan dosa kepada sesama manusia, cara meleburnya dengan meminta maaf kepadanya. Taubat yang benar adalah taubat yang sungguh-sungguh yang memiliki tiga kriteria. Pertama, memohon ampun kepada Allah SWT atas segala perbuatan dosa yang pernah kita perbuat. Kedua, berjanji dengan keteguhan hati untuk tidak megulangi perbuatan dosa tersebut dan ketiga banyak melakukan perbuatan baik karena perbuatan baik yang kita lakukan akan dapat menghapus perbuatan buruk yang telah kita lakukan. Rasulullah SAW bersabda, “Dan ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik, karena itu akan dapat menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” Taubat yang kita lakukan haruslah taubatan nasuha. Artinya taubat yang sungguh-sungguh dan tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa yang telah kita perbuat. Bilamana di 10 hari kedua bulan Ramadhan ini kita gunakan dengan baik untuk mohon ampun kepadaNya, insya Allah dosa-dosa kita yang terdahulu diampuni oleh Allah SWT, walaupun dosa itu menggunung.

22.SEMANGAT HIDUP

SEMANGAT HIDUP Oleh: Ustaz Yusuf Mansur Saya melihat Indonesia bukan hanya hari ini saja. Tapi jauh lagi lebih ke depan. Indonesia yang butuh kepositifan dari siapa pun stakeholder-nya. Indonesia yang butuh semangat dari semua penduduk negerinya. Dan terlebih lagi, Indonesia butuh doa dari semuanya. Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) pada Rabu, 9 Juli 2014, adalah ikhtiar kita dan ibadah kita. Bukan Tuhan bagi kita. Sebagai ikhtiar dan ibadah, insya Allah masing-masing akan diganjar oleh Allah SWT sesuai dengan niatan masing-masing. Dan saya memilih untuk percaya bahwa semuanya punya niatan lillahi ta'ala dan harapan serta doa yang baik buat negeri Indonesia ini. Mari lanjutkan perjalanan menata dan membangun negeri tercinta ini. Masing-masing individu negeri, kembali kepada posisinya masing-masing, dan kembali melanjutkan pengabdiannya yang terbaik buat bangsa dan negara. Saya banyak melihat dan mendengar, orang-orang yang kemudian berterima kasih sebab tidak terpilih. Dan sebaliknya, menyesal sebab terpilih. Menyesal yang kadang jadi berkepanjangan. Tentu pembaca tahu apa yang dimaksud. Dan saya pun banyak melihat dan mendengar, banyak orang yang memanfaatkan sebaik-baiknya setiap kesempatan yang diberikan Allah SWT saat diberikan kesempatan untuk berkuasa. Pada saat yang sama, saya pun tidak sedikit melihat dan mendengar, banyak juga orang-orang yang besar, tetap melanjutkan perjuangan dan pengabdiannya, yang terbaik, untuk bangsa dan negaranya. Meskipun tidak terpilih masuk di pemerintahan. Ya, sebab siapa pun ia, di mana pun ia, sebagai apa pun dirinya, Allah dan Indonesia memanggil untuk memberikan kontribusi terbaik dari apa yang bisa dilakukannya. Tidak ada yang punya peran lebih baik dan lebih berharga. Semuanya sama jika niatnya sama. Selebihnya, biarlah Allah SWT yang melihat dan menilai. Dan biarlah pula bumi pertiwi yang merasakannya. Senantiasa diri ini berdoa. Untuk semua. Tetap untuk semua. Dengan doa yang disesuaikan dengan apa yang diharapkan dan dibutuhkan. Kepada yang terpilih nanti, negeri ini bukan miliknya dan bukan milik siapa yang mendukungnya. Doa teriring untuknya. Kepada yang tidak terpilih, pun doa terpanjat. Doa terbaik. Kepada seluruh rakyat, pun saya pilih berdoa dan mendoakan. Allah tidak akan pernah salah dalam memutuskan, berkehendak, dan berbuat. Pastilah semua yang terbaik, untuk Indonesia, untuk semua rakyatnya, semua umat manusia, bahkan untuk alam semesta dan segala isinya yang saling kait mengait.

21.SEDEKAH TERBAIK 20 DESEMBER 2014

SEDEKAH TERBAIK REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nawawi Sedekah merupakan amalan sunah yang sangat umum di kalangan umat Islam. Apalagi, pada bulan suci Ramadhan. Sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, kala Ramadhan, Rasulullah SAW lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus. Bahkan, dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad ada tambahan, “Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya.” Artinya, Rasulullah SAW adalah ahli sedekah. Dan, jika kita perhatikan, ternyata di dalam Alquran, Allah SWT berulang kali memberikan penekanan khusus terkait amal yang bisa memberikan kebahagiaan pada sesama ini. “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS [63]: 10). Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat tersebut. Menurutnya, seorang Muslim hendaknya tidak berlebih-lebihan dalam soal harta (sehingga menjadi kikir), yang akan menjadikannya menyesal di hadapan Allah. Sementara itu pada ayat lain, Allah SWT memberikan perintah khusus kepada orang beriman, sebagaimana khsusunya perintah berpuasa ini. “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafaat.” (QS [2]: 254). Dengan demikian dapat dipahami, meskipun sedekah merupakan amalan sunah, pada hakikatnya sedekah merupakan perisai bagi umat Islam untuk menolak segala macam keburukan di dunia dan akhirat. Dari sini dapat ditemukan alasan logis mengapa kala Ramadhan Rasulullah SAW lebih dermawan dibandingkan dengan angin yang berhembus. Ternyata, sedekah sangat efektif untuk menyelamatkan masa depan kita yang sesungguhnya, yakni kelak pada hari akhir kala berjumpa dengan Allah SWT. Jadi, sangat pantas jika suatu ketika ada seorang laki-laki menemui Rasulullah SAW, lantas bertanya tentang sedekah terbaik (yang paling besar pahalanya). Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia mengatakan, “Datang seorang laki-laki dan berkata kepada Nabi, Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama (terbaik)?” Nabi SAW bersabda, “Engkau bersedekah dan engkau dalam keadaan sehat dan sangat menginginkan, engkau takut kefakiran dan menginginkan kekayaan, dan janganlah engkau lalai. Hingga apabila (napas) telah sampai di kerongkongan, engkau berkata: Untuk fulan sekian dan untuk Fulan sekian, dan telah menjadi milik Fulan!” (HR Bukhari). Artinya, sedekah yang paling utama itu ialah ketika kita dalam kondisi sangat berhajat terhadap harta, lantas kita merelakannya untuk orang lain demi membantu sesama atau tegaknya agama Allah. Terhadap siapa saja umat Islam yang mampu melakukan hal tersebut maka insya Allah baginya surga seluas langit dan bumi (QS [3]: 133-134). Dengan demikian, seorang Muslim tidak semestinya berkeluh kesah meskipun dalam kesempitan. Sebab, sedekah dalam kesempitan adalah sebaik-baik sedekah.

20.MUSYAWARAH DAN TAWAKAL 13 DESEMBER 2014

MUSYAWARAH DAN TAWAKAL REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Nanat Fatah Natsir Dalam sejarah Islam dikenal Perang Uhud yaitu peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dan Musyrikin. Sebelum berperang, Rasulullah SAW dengan para sahabatnya dan pasukan perangnya menggelar musyawarah untuk mengatur taktik dan strategi Perang. Kemudian peserta musyawarah pun menyepakati strategi perang untuk menghadapi kaum musyrik. Namun, dalam Perang Uhud, pasukan kaum Muslim mengalami kekalahan. Hal itu disebabkan pasukan perang yang ditugaskan untuk tetap di pos, ia indisipliner meninggalkan pos yang ditugaskan Nabi Muhammad SAW. Ia ingin mengejar keuntungan material yaitu gonimah perang yang akhirnya pada Perang Uhud pasukan kaum muslimin mengalami kekalahan, tidak seperti pada perang Badar yang meraih kemenangan yang gemilang. Allah SWT berfirman ”Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah.” (Q.S Ali Imron 159). Mukmin yang bertawakal akan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah SWT dan meyakini hanya Allah-lah yang mampu memberi atau tidak memberi sesuatu dan mendatangkan manfaat atau marabahaya. Bangsa Indonesia telah menyelenggarakan Pemilu Pilpres 9 Juli 2014 dengan sukses, tidak ada gangguan yang berarti bahkan Obama memuji dan mengucapkan selamat kepada penyelenggaraan Pemilu Pilpres di Indonesia berjalan sukses. Tanggal 22 Juli 2014 hasil Pilpres diumumkan KPU dan ditetapkan pemenangnya, karena itu kita sebaiknya menyikapi hasil Pilpres dengan sikap: Pertama, bersyukur. Kita bersyukur kepada Allah SWT, Pilpres telah berjalan sukses. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bangga sebagai Negara Demokrasi terbesar nomor tiga di dunia setelah Amerika dan India, sesuai dengan Firman Allah SWT ”Kalau kita bersyukur maka Allah akan menambah, tetapi jika kufur maka Allah menyiksa dengan siksa yang pedih.” Kedua: Legowo. Capres Cawapres dan pendukungnya legowo, siapapun yang menang harus kita dukung. Yang menang adalah rakyat Indonesia. Mari kita kembali ke asal hidup bangsa kita rukun dan damai, yang menang tidak arogan dan yang kalah tidak putus asa. Silahkan bersaing kembali lima tahun yang akan datang. Kita harus membangun jiwa kesatria, siap kalah dan siap menang sehingga kita dapat mewariskan tradisi yang positif yang bisa diteladani generasi setelah kita dalam berdemokrasi secara santun, cerdas dan dewasa. Ketiga: Ambil hikmah. Kedua Capres dan Cawapres sudah berusaha seoptimal mungkin agar menang namun kenyataan menunjukan menurut peraturan hanya ada satu pemenang sebagai Presiden dan Wakil Presiden, karena itu ambil hikmah dari yang terjadi. Firman Allah SWT ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al Baqarah:216). Karena itu, kita bangsa Indonesia harus mengambil hikmahnya apa yang terjadi pada kita mungkin lebih baik bagi bangsa kita. Marilah kita bermusyawarah dan bertawakal kepada Allah SWT. Mudah mudahan Presiden dan Wakil Presiden terpilih dapat meningkatkan kesejahteraan yang berkeadilan lebih baik lagi di masa mendatang.

19.UMAR BIN KHOTOB; TEGAS DAN LEMBUT 6 DES 2014

UMAR BIN KHOTOB: TEGAS DAN LEMBUT REPUBLIKA.CO.ID, Umar bin Khattab dianugerahi Allah SWT dengan ketegasan sekaligus hati yang lembut. Kisah rumah tanggaUmar dapat menggambarkan betapa tinggi budi pekerti sang khalifah dalam menghormati istri. Syahdan, diceritakan seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khattab RA. Ia hendak mengadukan istrinya karena marah-marah kepadanya. Lelaki tersebut jengkel dan ingin mengadukan kelakuan istrinya kepada Amirul Mukminin. Setiap kali datang ke rumah Amirul Mukminin, ia tidak pernah bertemu dengannya. Umar bin Khattab RA selalu telah pergi sebelum ia datang. Suatu ketika, laki-laki itu kemudian datang lagi ke rumah Umar bin Khattab RA. Sampai di depan rumah, ia tidak langsung mengetuk pintu. Umar justru berdiri di depan. Lelaki itu pun tertegun sejenak. Secara tak sengaja, ia mendengar sang khalifah sedang dimarahi istrinya. Sang istri terdengar membesar-besarkan masalah yang remeh. Nada suara perempuan itu meninggi. Sang Amirul Mukminin cenderung pasif menghadapi kemarahan istrinya. Lelaki itu kemudian berkata dalam hati, “Jika seorang Amirul Mukminin saja seperti itu, bagaimana denganku?” Ia kemudian berbalik hendak pergi. Umar bin Khattab keluar rumah dan melihat tamunya hendak pergi. Ia pun bertanya, “Apa keperluanmu?” Laki-laki itu kemudian berbalik dan berkata, “Wahai, Amirul Mukminin, aku datang untuk mengadukan perangai buruk istriku dan sikapnya kepadaku. Tapi, aku mendengar hal yang sama pada istrimu,” kata lelaki itu. Umar bin Khattab RA kemudian tersenyum. Dia pun mengisahkan kepada lelaki itu mengapa Umar yang keras begitu sabar menghadapi istrinya. “Wahai, saudaraku, aku tetap sabar menghadapi perbuatannya karena itu memang kewajibanku.” Alih-alih menghardik istrinya, Umar malah menceritakan betapa besar jasa istrinya dalam kehidupannya di dunia. “Bagaimana aku bisa marah kepada istriku karena dialah yang mencuci bajuku, dialah yang memasak roti dan makananku, ia juga yang mengasuh anak-anakku, padahal semua itu bukanlah kewajibannya,” jawabnya. Umar bin Khattab RA kemudian menasihati lelaki itu untuk bersikap sabar kepada istrinya karena istrinyalah yang membuat dia tenteram di sampingnya. “Karena istriku, aku merasa tenteram (untuk tidak berbuat dosa). Maka, aku harus mampu menahan diri terhadap perangainya.” “Wahai, Amirul Mukminin, istriku juga demikian,” kata lelaki itu. Amirul Mukminin pun menjawab, “Maka, hendaknya engkau mampu menahan diri karena yakinlah hal tersebut hanya sebentar saja,” kata Amirul Mukminin. TAULADAN BAIK.

18.MEMAKNAI ZAKAT 29 NOPEMBER 2014

MEMAKNAI ZAKAT SIAR ON AIR MBS FM JOGJA TIAP SABTU PAGI JAM 05 - 06 REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Erick Yusuf Banyak orang yang menetapkan (membayarkan) haul zakatnya pada bulan Ramadhan. Karenanya, zakat fitrah senantiasa disandingkan dengan zakat mal dan yang lainnya demi mengejar keutamaan berbuat kebaikan pada bulan Ramadhan. Menariknya, tidak sedikit dari mereka yang mengeluarkan zakatnya pada 10 hari terakhir. Hal ini lebih disebabkan perhitungan uang tunjangan hari raya (THR) yang diterima kebanyakan yang berstatus sebagai pegawai perusahaan dan yang lainnya. Pada akhirnya, Ramadhan yang berkah ini memunculkan bukan hanya kerinduan terhadap amalan puasanya saja, melainkan secara menyeluruh juga masuk seluruh amalan kebaikan, termasuk zakat. Zakat mempunyai beberapa pemahaman. Di antaranya, pertama an-Nama (tumbuh dan berkembang). Artinya, harta yang dikeluarkan zakat darinya, tidaklah akan berkurang, justru akan tumbuh dan berkembang lebih banyak. Kedua, ath-Thaharah (suci). Artinya harta yang dikeluarkan zakatnya, akan menjadi bersih dan membersihkan jiwa yang memilikinya dari kotoran hasad, dengki, dan bakhil. Ketiga, ash-Shalahu (baik). Artinya, harta yang dikeluarkan zakatnya, akan menjadi baik dan zakat sendiri akan memperbaiki kualitas harta tersebut dan memperbaiki amal yang memilikinya. Kata zakat dalam Alquran disebutkan sebanyak 32 kali. Dan, khusus penyebutan kata zakat berbarengan dengan perintah shalat sebanyak 28 kali. Hal ini menunjukkan bahwa perintah zakat sama pentingnya dengan perintah shalat. Para ulama juga mengaitkan perintah zakat dengan simbol seluruh urusan terhadap sesama manusia (hablumminannas). Ya, karena zakat sesungguhnya mengajarkan kepada kita untuk memahami beberapa ilmu. Di antaranya, database. Kita harus cerdas mendata siapa yang berhak menerima zakat dari lingkungan terdekat kita. Berkaitan dengan itu, tentu saja kita mesti melakukan survei atau blusukan. Itulah yang membuat kita bersilaturahim, minimal pada lingkungan terdekat. Dengan blusukan, kita bisa langsung melihat sekaligus merasakan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, yang kekurangan, dan sebagainya. Dengan demikian, akan memunculkan empati langsung dari hati, ikhlas tanpa rekayasa. Tidak jarang air mata bercucuran, sekaligus tawa bahagia bercampur aduk ketika kita terjun langsung ikut dengan para amil atau lembaga zakat untuk blusukan atau kukurusukan membagikan ke pelosok-pelosok daerah. Subhanallah, begitu indah zakat. Kita akan menjadi rindu untuk senantiasa berzakat karena bisa merasakan hal yang sama. Tetapi, jika tidak sempat karena belum mendapat kelapangan waktu, bayangkan dengan imajinasi kita hadir bersama mereka. Lihat foto-foto program para lembaga amil zakat, yang notabene mewakili kehadiran jasad kita di sana walau hal itu tidak mewakili rasa kita. Seandainya kita bisa hadir secara langsung maka kita bisa merasakannya dengan hati. Namun, karena tidak bisa, cukuplah rasa itu yang membuncah. Sebab, jasad ini boleh saja terpisah oleh jarak, tetapi tidak dengan hati. Karena, hati selalu tetap terpaut. Ah, rindu zakat, semangat untuk berzakat. Sudahkah kita berzakat? Mari segera ditunaikan.

17.WANITA PEMINTAL BENANG 22 NOPEMBER 2014

WANITA PEMINTAL BENANG; IDUL FITRI BUKAN IDUL NAFSU REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Ahmad Dzaki MA Islam tidak mengajarkan umat Muslim hanya taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya di bulan suci Ramadhan, setelah itu kita kembali berbuat dosa. Justru, dari ibadah di bulan Ramadhanlah kita memantapkan komitmen untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya seumur hidup kita. Dalam surat an-Nahl ayat 92, Allah SWT berfirman yang artinya, ''Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah dipintal dengan kuat, sehingga menjadi cerai-berai kembali.'' Ini adalah sebuah ibrah (pelajaran) yang sangat mahal. Allah SWT merekam kisah seorang wanita yang hidupnya sia-sia. Dari pagi sampai sore, ia hanya memintal benang. Sore hari, ketika pintalan benang itu selesai, ia cerai beraikan kembali. Perhatikan, Allah SWT melarang agar akhlak wanita tersebut tidak ditiru. Perbuatan yang sia-sia, adalah kerugian nyata. Karena itu, Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan kita akan senantiasa istikomah. Ketika salah seorang sahabatnya meminta nasehat yang bisa dijadikan pegangan seumur hidupnya, Rasulullah SAW menjawab, Qul amantu billah tsummastaqim (katakanlah aku beriman kepada Allah SWT kemudian istikomahlah). Setiap tahun kita selalu menjalankan ibadah Ramadhan siang dan malam. Siangnya berpuasa, malamnya kita tegakkan shalat malam, tetapi benarkan nuansa ketaatan itu akan bertahan seumur hidup kita? Atau itu hanya untuk Ramadhan saja? Berapa banyak orang Islam yang selama Ramadhan rajin ke masjid, tetapi begitu Ramadhan berakhir, ia pun jarang ke masjid? Seakan ia tak kenal lagi masjid. Naudzubillah... Berapa banyak umat Islam yang selama Ramadhan rajin membaca Alquran, tetapi begitu Ramadhan selesai dan berakhir, Alquran pun dilupakan begitu saja... Hal ini mirip dengan kisah seorang wanita yang Allah SWT ceritakan di atas. Selama Ramadhan, ketaatan dirangkai. Begitu Ramadhan habis dan berakhir, ketaatan dicerai-beraikan kembali. Naudzubillah ... Kisah tersebut ditampilkan Allah SWT agar kita dapat mengambil ibrah. Jangan sampai perbuatan baik yang sudah kita lakukan secara istikomah, terhenti begitu saja. Dan justru, dirusak oleh perbuatan yang sia-sia. Nuansa Ramadhan harus dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, agar kita benar-benar menjadi khaira ummah (umat yang terbaik). Amin ya mujibassailin. Wallahu 'alam bish-shawab.

16.MANFAAT SILATURAHIM 15 NOPEMBER 2014

MANFAAT SILATURSHIM SIAR ON AIR ACARA MENU QALBU (05 - 06 TIAP SABTU) DI RADIO MBS 92.7 FM JOGJA Oleh: Ina Salma Febriany Bulan rahmah dan maghfirah telah berlalu. Kepergiannya diiringi dengan berbagai sambutan dari para pecintanya; ada yang teramat menyesal dan bersedih karena merasa belum memaksimalkan bulan Ramadhan, ada pula yang bersyukur karena telah mampu menjalani serangkaian target yang telah disusun selama bulan Ramadhan. Apa pun perasaan yang kita miliki, tetaplah kita harus mensyukuri bahwa Idul Fitri adalah momentum penyucian hati setelah sebulan lamanya kita dilatih untuk menahan dan menyucikan diri dari segala hasrat duniawi; makan, minum, termasuk mengelola emosi. Idul Fitri menjadi kesempatan terbaik untuk sama-sama membuka hati, memberi dan meminta maaf, serta menebarkan sifat belas kasih. Meski memaafkan dan meminta maaf tak sebatas hanya pada saat perayaan Idul Fitri, momen perayaan ini kerap dispesialkan untuk berbagi dan memohon maaf. Tak ayal, ucapan yang sering kita dengar atau bahkan sering kita lontarkan ialah, ‘Mohon Maaf Lahir dan Bathin’. Tak salah memang, memberi maaf terlebih meminta maaf adalah perilaku terpuji. Tak hanya bermaaf-maafan, Idul Fitri menjadi momen berharga untuk kembali merajut silaturahim bersama rekan dan sanak saudara. Silaturahim (menyambung kasih sayang), atau yang justru sering disebut dengan silaturahmi adalah perbuatan baik yang dianjurkan Rasulullah SAW. Namun, hakikat silaturahim tak cukup dengan lahir (zahir/tampak), berupa berjabat tangan atau bertatap wajah. Hendaknya silaturahim bathin (hati) —yang sadar untuk meminta dan memberi maaf—benar-benar disadari, agar segala noda-noda di hati berupa iri, dengki, hasad, dendam, melebur hancur bersamaan dengan silaturahim tersebut. Allah Swt berfirman, "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Mahapenyantun." (QS al-Baqarah: 263) Secara tersirat, Allah menyebutkan dua tingkatan kebajikan dalam ayat ini, Pertama, perkataan yang baik. Berkata yang baik adalah salah satu usaha hifdz al-lisan (menjaga lisan) adalah hal yang benar-benar dianjurkan dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Berkatalah yang baik, atau (jika tidak bisa) lebih baik diam,’. Dalam hadis ini Rasulullah mengajak umatnya untuk mampu berkata baik dan membuahkan manfaat bagi sesama, bukan perkataan penuh dusta, caci-maki, dendam dan amarah. Kedua, kebajikan dengan memberi maaf dan ampunan kepada orang yang telah berlaku buruk kepada kita, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Nah, yang terakhir inilah yang disadari maupun tidak, sulit dilakukan. Meminta maaf memang terkadang bukanlah perkara yang mudah, namun, bukan berarti kita tidak mampu melakukannya. Terkadang pula, perasaan tinggi hati kerap merusak niat diri sehingga kita malu mengutarakan ‘maaf’ terlebih dulu, padahal, jika kita cermati bersama, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (HR Abu Dawud) Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Pintu-pintu surga akan dibuka pada hari Senin dan Kamis, kemudian Allah akan memberi ampunan kepada setiap orang yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun; kecuali seorang laki-laki yang ada perpisahan antara dia dengan saudaranya. Maka berkatalah Allah: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai.” (HR Muslim) Semoga kita tergolong menjadi hamba-Nya yang mampu menyambung tali kasih sayang ikhlas dari hati, sehingga mudah untuk memberi dan meminta maaf dengan tulus. Amin.

15.MENGELOLA WAKTU 8 NOPEMBER 2014

MENGELOLA WAKTU SIAR ON AIR MENU QALBU MBS FM BERSAMA USTADZ DRS. JUMARODIN GIWANGAN JOGJA Oleh: Rafiqah Ahmad Lc MA Waktu merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga yang dianugerahkan kepada para hamba-Nya. Dalam Alquran disebutkan bahwa manusia itu akan mengalami kehancuran jika tidak memanfaatkan waktunya untuk kebaikan, sebagaimana firman Allah, “Dan demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS al-'Ashr [103]: 1-3). Imam Fakhrurrazi dalam tafsirnya tentang surah al-'Ashr tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-'Ashr itu adalah waktu atau masa. Masa adalah sesuatu yang sifatnya sangat unik dan mengagumkan. Beragam kisah anak manusia terjadi silih berganti pada lintas generasi. Kualitas kehidupan seorang anak manusia sangat tergantung dari caranya memanfaatkan waktu. Hidupnya akan berarti dan bernilai jika ia dapat memaksimalkan peran waktu di kehidupannya. Sebaliknya, kerugian dan kegagalanlah yang akan diperoleh saat dia menyia-nyiakan waktu yang dilaluinya. Rasulullah SAW dalam hadisnya menjelaskan tentang urgensi waktu sebagai berikut, “Ada dua jenis nikmat yang sering kali dilalaikan kebanyakan orang, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” Kedua nikmat ini merupakan anugerah tak terhingga dari Allah SWT yang harus dimanfaatkan secara maksimal. Terkait interpretasi dari hadis ini, Ibnul Jauzi menjelaskan, terkadang seseorang berada dalam kondisi sehat tapi tidak mempunyai waktu luang akibat tersita oleh pekerjaan dan urusan duniawi lainnya. Sebaliknya saat seseorang mempunyai waktu luang namun tetap tidak bisa memanfaatkannya karena kondisi kesehatannya yang buruk sehingga waktu luang pun akan berlalu dengan sia-sia. Dengan demikian, usia pada dasarnya tidaklah bernilai apa-apa dalam kehidupan ini, karena sebenarnya yang berharga itu adalah value dari pemanfaatan waktu. Value inilah yang akan membuat usia seseorang memiliki makna dan kualitas. Seorang yang menyia-nyiakan puluhan tahun dari usianya, namun di saat-saat terakhirnya ia bertobat dan berbuat kebaikan maka kualitas usianya itu hanya di penghujung usianya saja. Ini menguatkan pernyataan dari ayat yang disebutkan sebelumnya. Menarik sekali pernyataan dari Imam Syafi'i yang mengatakan bahwa selama dia bergaul dengan para ahli sufi, hanya dua pernyataan yang selalu dia dengar dari mereka, yaitu “Waktu itu ibarat pedang, jika kau tidak membunuhnya (waktu) maka dialah yang akan membunuhmu.” Pernyataan lainnya, “Dan waktumu... jika tidak kau pergunakan untuk kebaikan maka dia akan menyibukkanmu dengan kejahatan.” Wallahu a'lam bish shawwab.

14.BAHAYA FITNAH 1 NOPEMBER 2014

BAHAYA FITNAH DIALOG ISLAM DI RADIO MBS 92.7 FM JOGJA BERSAMA USTADZ DRS. JUMARODIN GIWANGAN JOGJA. INFO: 085 743 141 067 Oleh: M Husnaini Sebuah peristiwa terjadi ketika rombongan Rasulullah SAW beserta sahabat kembali dari perang melawan Bani Mushtaliq pada Sya’ban tahun ke-5 H. Beberapa orang munafik juga turut serta dalam peperangan ini. Kisah bermula ketika dalam perjalanan pulang, rombongan Muslimin berhenti di suatu tempat. Aisyah RA, istri Rasulullah SAW, yang ikut dalam rombongan, keluar dari sekedup. Kalungnya hilang. Lama mencari, perhiasan dari mutiara zifar itu tak juga ketemu. Ketika Aisyah kembali ke sekedupnya, rombongan sudah berangkat. Penanggung jawab sekedup pasti mengira bahwa Aisyah masih berada di dalamnya. Menyadari dirinya tertinggal, Aisyah lantas duduk diam di tempat semula. Dia berharap, ada anggota rombongan yang berbalik untuk menjemputnya. Lelah menunggu, akhirnya Aisyah mengantuk dan tertidur. Pada saat bersamaan, lewatlah seorang sahabat bernama Shafwan bin Muaththal as-Sulami. Shafwan memang bertugas sebagai anggota pasukan paling belakang. Melihat Aisyah sendirian di pinggir jalan, Shafwan terkejut seraya mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, istri Rasulullah!” Aisyah terbangun. Shafwan langsung memberikan untanya untuk dikendarai Aisyah. Dia sendiri berjalan kaki menuntun unta sampai tiba di Madinah. Nahas. Peristiwa itu diketahui orang munafik. Desas-desus pun muncul. Dasar orang munafik, selalu ada cara untuk menjatuhkan reputasi Rasulullah yang memang menjadi incaran sejak lama. Ummul Mukminin, Aisyah, difitnah berselingkuh dengan Shafwan. Adalah orang munafik bernama Abdullah bin Ubai bin Salul yang paling getol menggencarkan fitnah keji bahwa Aisyah ada afair dengan Shafwan. Terang saja, fitnah segera menyebar ke seantero kota. Fitnah itu menjadi buah bibir di kalangan penduduk Madinah selama kira-kira sebulan. Jangankan Muslimin pada umumnya, bahkan Rasulullah sendiri sempat terpengaruh. Karena termakan tuduhan murahan itu, dikabarkan Rasulullah sampai menunjukkan perubahan sikap kepada Aisyah. Tentulah hati Aisyah hancur. Dia tidak berhenti menangis dan jatuh sakit. Tabir fitnah baru tersingkap ketika turun surah an-Nur ayat 11-26. Nama Aisyah dan Shafwan kembali bersih. Kini, semua benderang sudah. Peristiwa itu menunjukkan betapa dahsyatnya bahaya fitnah. Istilah yang dipakai oleh Allah dalam Alquran untuk mendefinisikan fitnah ialah buhtan (kebohongan besar). (QS al-Ahzab [33]: 58). Akibat badai fitnah, hidup seseorang bisa sengsara. Keluarga kehilangan muka. Karier dan jabatan yang dibangun puluhan tahun lenyap seketika. Kepercayaan mendadak sirna. Kita berdoa semoga diselamatkan oleh Allah SWT dari segala fitnah yang menghinakan. Segenap daya, kita juga berupaya agar jangan sampai termasuk golongan penebar fitnah. Di antara caranya ialah menghindari gibah. Sungguh lisan terasa ringan digerakkan untuk bermaksiat kepada Allah, tetapi betapa berat untuk diajak berzikir kepada Allah. Banyak sekali faktor yang bisa mendorong manusia untuk berbuat kesalahan. Terkadang dorongan itu datang dari dalam diri sendiri dan terkadang dari luar. Berbahagialah orang yang mengoreksi kelemahan dirinya. Sebab, kata Abu ad-Darda, “Termasuk wujud ilmu seorang hamba adalah dia mengetahui imannya bertambah atau berkurang. Dan, termasuk berkah ilmu seorang hamba adalah dia mengetahui dari mana setan akan menggelincirkannya.” SEMOGA KITA SADAR ITU.

13.HAJI MABRUR 25 OKTOBER 2014

MENJADI HAJI MABRUR PENGERTIAN HAJI MABRUR 25 OKTOBER 2014 HAJI MABRUR: MAKNA CIRI DAN CARA MENDAPATKANNYA Haji Mabrur. Makna, Ciri dan Cara Mendapatkannya Rasulullullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda tentang haji mabrur: Artinya; ‘Umrah ke umrah menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari 1773, Muslim 1350). Dan di hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullullah Sallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang amalan apa yang paling utama? Beliau menjawab : ‘Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian beliau ditanya kembali, ‘Setelah itu apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad fi Sabilillah.’ Kemudian ditanya lagi, ‘Lalu apa lagi? Beliau menjawab, ‘Haji mabrur.’ (HR. Al-Bukhari 1519, Muslim 83). Makna ‘Haji Mabrur’ Ulama berbeda pendapat dalam memaknai haji mabrur. Sebagian berpendapat bahwa ia adalah amalan haji yang diterima di sisi Allah, dan sebagiannya lagi berpendapat yaitu haji yang buahnya tampak pada pelakunya dengan indikasi keadaannya setelah berhaji jauh lebih baik sebelum ia berhaji. (lihat Fathul Allam oleh Shiddiq Hasan Khan 1/594). Salah seorang Ulama Hadis Al Hafidh Ibn Hajar al’ Asqalani dalam kitab Fathul Baarii, syarah Bukhori Muslim menjelaskan: “Haji mabrur adalah haji yang maqbul yakni haji yang diterima oleh AllahSubhanahu waTa’ala.” Pendapat lain yang saling menguatkan dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam syarah Muslim: “Haji mabrur itu ialah haji yang tidak dikotori oleh dosa, atau haji yang diterima Allah Subhanahu waTa’ala, yang tidak ada riyanya, tidak ada sum’ah tidak rafats dan tidak fusuq.” Selanjutnya oleh Abu Bakar Jabir al Jazaari dalam kitab, Minhajul Muslimin mengungkapkan bahwa: “Haji mabrur itu ialah haji yang bersih dari segala dosa, penuh dengan amal shaleh dan kebajikan-kebajikan.” Berdasarkan rumusan yang diberikan oleh para Ulama di atas tentang pengertian haji mabrur ini, maka dapat kita simpulkan bahwa haji mambur adalah haji yang dapat disempurnakan segala hukum-hukum berdasarkan perintah Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi waSallam. Sebuah predikat haji yang tidak mendatangkan perasaan riya’ bersih dari dosa senantiasa dibarengi dengan peningkatan amal-amal shalih, tidak ingin disanjung dan tidak melakukan perbuatan keji dan merusak. Makna di atas saling berdekatan, dan untuk mencapai kemabruran haji tentu tidak dapat terlepas dari makna diatas. Dengan demikian Al-Allamah Al-Munâwi berkata ketika menjelaskan makna ‘haji mabrur’ : ‘Maknanya adalah haji yang diterima, yaitu haji yang tidak tercampur dengan dosa apapun, dan diantara indikasi diterimanya adalah ia kembali melakukan kebaikan yang pernah ia lakukan dan ia tidak kembali melakukan kemaksiyatan.’ (Faidhul Qadîr oleh Al-Allamah Al-Munâwi 3/520) Syarat-syarat Haji Mabrur Untuk meraih predikat haji mabrur, maka mesti terkumpul di dalamnya hal-hal berikut: 1. Hendaknya haji yang ia lakukan harus benar-benar ikhlash karena Allah, bahwa motivasinya dalam berhaji tidak lain hanya karena mencari ridha Allah dan bertaqarrub kepada-Nya. Ia berhaji bukan karena riya’ dan sum’ah, dan bukan pula karena ingin di gelar dengan sebutan haji. Ia berhaji semata-mata mencari keridhaan Allah. 2. Haji yang ia lakukan mesti serupa dengan sifat haji Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam. Maksudnya dalam melakukan pro-ses ibadah haji, manusia dengan segenap kemampuannya mengikuti cara yang dicontohkan Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam. 3. Harta yang ia pakai untuk berhaji adalah harta yang mubah bukan yang haram. Bukan diperoleh dari hasil transaksi riba, tipuan, judi dan bentuk-bentuk lainnya yang diharamkan. Tapi, didapat dari usaha halal. 4. Hendaknya ia menjauhi rafats (menge-luarkan perkataan yang menimbulkan birahi/bersetubuh), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan. Allah berfirman: فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ Artinya: ‘Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (QS. Al-Baqarah 197). (Lihat Syarh Riyâdus Shâlihin oleh Syaikh Ibnu Utsaimin 3/113). Tanda Haji Mabrur Sebenarnya yang mempunyai hak menilai kemabruran haji seseorang hanyalah Allah Ta’ala. Dan sebagai manusia kita hanya bisa menilai mabrur tidaknya haji dari pandangan manusia saja. Ada beberapa tanda haji mabrur menurut para Ulama Islam berdasarkan akan keterangan serta nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Berikut beberapa tanda ciri haji mabrur tersebut : 1. Segala amalan ibadah haji dilakukan dan berdasarkan atas keikhlasan mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala dan juga dilaksanakan sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Dalam melaksanakan ibadah haji ini kita harus benar-benar meluruskan niatan hati kita ikhlas karena Allah, bukan karena kita naik haji karena gengsi, untuk status sosial atau niat keliru lainnya untuk mendapatkan pandangan masyarakat saja. Inilah salah satu ciri haji yang mabrur. 2. Harta yang digunakan dalam melaksanakan haji tersebut adalah dari hasil harta yang halal. Karena sesuatu yang baik dalam hal apa pun akan menghasilkan hasil yang baik bila hal tersebut juga berasal dari yang baik. Untuk itu bila kita memang menginginkan pergi haji dan melaksanakan ibadah haji maka kita juga harus bisa memastikan harta yang dipakai kita adalah halal agar bisa bisa nantinya mendapatkan haji yang mabrur. 3. Melaksanakan serangkaian ibadah haji yang telah dituntunkan dan ditambah serta dipenuhi dengan amalan-amalan ibadah lainnya yang menyertainya seperti halnya memperbanyak dzikir di Masjidil Haram, memperbanyak sedekah di kala haji dan berkata-kata yang baik. Point pentingnya adalah dengan banyak melakukan kebaikan di dalam melaksanakan haji tersebut. Di antara amalan khusus yang disyariatkan untuk meraih haji mabrur adalah bersedekah dan berkata-kata baik selama haji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang maksud haji mabrur, maka beliau menjawab :”Memberi makan dan berkata-kata baik.” (HR. Al-Baihaqi 2/413 (no. 10693). 4. Tidak melakukan perbuatan maksiat khususnya dalam melaksanakan ihram. Larangan berbuat maksiat ini memang dalam setiap tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya saat sedang melaksanakan haji, maka meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat adalah salah satu cara dan tips agar haji kita memperoleh kemabruran. Hal-hal yang termasuk dilarang dalam ihram dan haji adalah rafats, fusuq dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji. Pengertian rafats adalah semua bentuk kekejian dan perkara yang tidak berguna. Termasuk di dalamnya bersenggama, bercumbu atau membicarakannya, meskipun dengan pasangan sendiri selama ihram. Fusuq adalah keluar dari ketaatan kepada Allah, apapun bentuknya. Dalilnya adalah salah satunya hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu :”Barang siapa yang haji dan ia tidak rafats dan tidak fusuq, ia akan kembali pada keadaannya saat dilahirkan ibunya.” (HR. Muslim (1350). 5. Kebaikan dan amal sholehnya meningkat setelah selesai melaksanakan ibadah haji dan tiba di tanah air. Salah satu tanda diterimanya amal seseorang di sisi Allah adalah diberikan taufik untuk melakukan kebaikan lagi setelah amalan tersebut. Sebaliknya, jika setelah beramal saleh melakukan perbuatan buruk, maka itu adalah tanda bahwa Allah tidak menerima amalannya. Sama halnya dengan diterima amalan ibadah puasa ramadhan maka bila sebelas bulan berikutnya amalan ibadah kita meningkat maka itu adalah salah satu tanda ibadah puasa Ramadhan kita diterimaNya. Sehingga tentunya kita lebih memahami bahwasannya setelah melaksanakan ibadah haji maka amalan ibadahnya akan semakin baik, banyak bertaubat setelah haji, berubah menjadi lebih baik baik dalam ibadahnya kepada Allah dan juga hubungannya antara sesama manusia, memiliki hati yang lebih lembut dan bersih, ilmu dan amal yang lebih mantap dan benar, kemudian istiqamah di atas kebaikan itu adalah salah satu tanda haji mabrur . Penekanan : Menjaga Amal Seperti yang dikatakan oleh Al-Munâwi, diantara indikasi diterimanya amal haji seseorang adalah ia kembali melakukan kebaikan yang pernah dilakukan dan tidak kembali melakukan kemaksiatan. Itu bermakna tugas seorang hamba bukan hanya sekedar beramal shalih saja, tetapi yang lebih berat dari itu adalah menjaga amal itu dari apa saja yang merusak dan menggugurkan-nya, riya’, dapat merusak amal meskipun sangat tersembunyi, dan ini banyak sekali dan tak terhitungkan. Amal yang tidak sesuai sunnah da-pat menggugurkan amal. Merasa berjasa kepada Allah juga dapat merusak amal. Mengganggu sesama makhluk dapat membatalkan amal , dan sengaja menentang dan meremehkan perintah Allah dapat membatalkannya dsb. (Ensiklopedi Islam Al-Kâmil, Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri 865). (dari berbagai sumber) HAJI MABRUR 25 OKTOBER 2014 Hadis nabi “Hajjul mabruuru laisa lahu jazaa-un illal jannah” (Haji yang mabrur tiada balasannya selain Surga). Lalu ada pula “Nabi SAW ditanya: Amal apa saja yang paling utama? Beliau berkata: Iman kepada Allah dan Rosul-Nya, dikatakan: Kemudian apa? Nabi berkata: Jihad di jalan Allah. Dikatakan lagi: Kemudian apa? Nabi berkata: Haji yang mabrur !” (Muttafaq ‘Alaihi). Haji mabrur adalah haji yang baik, haji yang berhasil, haji yang sesuai dengan tujuan apa seseorang diperintahkan untuk berhaji. Haji yang mengembalikan hamba kepada kesucian “Barangsiapa berhaji karena Allah tidak rafats dan tidak fusuq maka ia kembali suci dari dosa seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya” (HR Bukhori-Muslim). Beriman, patuh kepada perintah Allah, serta berakhlak yang lebih baik dibanding sebelum haji. Cara meraihnya antara lain: 1Pertama, bertekad kuat untuk mendapatkan predikat mabrur. Tekad ini dibarengi dengan keyakinan akan segala kemurahan Allah SWT. Yakin Allah SWT mengampuni kesalahan dan kelemahan, melihat dan memberi pahala pada langkah baik hamba-Nya, serta menolong hamba yang beriman dari kesulitan yang dihadapinya. 2Kedua, beribadah dengan sikap “ihsan” yakni “an ta’budallaha ka annaka taroohu, fain lam taroohu fainnallah yarooka” (beribadah seperti engkau melihat Allah. Dan jika engkau tak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihat engkau). Hadirkan Allah dalam setiap tempat dan waktu. 3Ketiga, berbuat baik sebanyak banyaknya selama perjalanan ibadah haji. Bersifat pemberi, mudah menolong, serta mengalah demi kepentingan orang lain yang lebih membutuhkan. 4Keempat, sabar dan banyak bersyukur. Banyak hal yang tak enak atau tak terduga yang mesti disikapi dengan shabar. Sementara anugerah Allah yang selalu datang selama beribadah haji patut untuk disyukuri. 5Kelima, seluruh rangkaian ibadah dijalankan sesuai dengan ilmu manasik yang dituntunkan aosulullah SAW. Jangan banyak mengada-ada atau semata ikut-ikutan. Ibadah dibarengi dengan penghayatan atas hikmah-hikmah yang dikandung di dalamnya. KIAT MENJADI HAJI MABRUR WALHAJJU MABRURU LAISA LAHUU JAZAA-A ILLAL JANNAH DAN TIDAK ADA GANJARAN LAIN BAGI HAJI MABRUR (HAJI YG BAIK) SELAIN SURGA (hr BUKHORI; Muslim, Tirmdizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan Malik) Hadis di atas, selain merupakan kabar gembira, juga merupakan peringatan bagi saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci, yaitu agar melaksanakan ibadah hajinya dengan ikhlas dan benar (sesuai tuntunan Rasulullah Saw.), serta taat pada setiap perintah dan larangan Allah. Ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah adalah syarat mutlak untuk semua ibadah, termasuk haji. Sebab, sebagaimana dikatakan Imam al-Fudhail bin 'Iyadh, ibadah tidak akan diterima bila tidak dikerjakan dengan cara yang benar, meskipun disertai dengan sikap ikhlas. Demikian pula bila tidak dilakukan dengan ikhlas, sekalipun itu dengan cara yang benar. Agar diterima, ibadah harus dikerjakan secara ikhlas sekaligus benar. Ikhlas demi Allah, dan benar berdasarkan sunnah Rasulullah. Jadi, penilaiannya bukan pada kuantitas tapi kualitas, yaitu ikhlas dan sesuai sunnah Rasulullah. Untuk itu, hal pertama yang harus diperhatikan seorang muslim untuk meraih haji mabrur adalah meniatkan hajinya semata-mata karena Allah, bukan karena tujuan lain! Ia harus menghilangkan sama sekali perasaan riya’ (ingin dilihat orang) dan sum'ah (ingin menjadi buah bibir orang). Rasulullah menjelaskan, riya’ adalah ”syirkul ashgar” (bentuk kemusyrikan yang paling kecil). Dalam hadis riwayat Imam Ibnu Khuzaimah, Rasulullah menjelaskan bahwa orang-orang yang riya’ dalam menghafal al-Qur'an, bersedekah, dan berjihad akan menjadi kayu bakar pertama api neraka. Berpijak pada semangat hadis ini, tidak menutup kemungkinan orang yang pergi haji karena riya’ akan mengalami nasib yang sama. Adapun orang yang sum'ah, di akhirat nanti akan diumumkan di hadapan semua makhluk Allah sebagai orang yang kecil dan hina. Rasulullah bersabda, "Barang siapa ingin didengar manusia (bersikap sum'ah) karena kehebatan ilmunya, Allah akan memperdengarkannya di hadapan makhluk-makhlukNya dalam keadaan kecil dan hina." (HR. Imam Ahmad dan Thabrani) Keikhlasan yang dituntut di sini adalah keikhlasan yang konsisten. Tak hanya ketika akan berangkat, tapi di tengah-tengah dan sesudah pelaksanaan haji pun seorang muslim yang berharap haji mabrur harus tetap menjaga keikhlasannya. Tidak gampang bagi kita dan tidak sulit bagi setan untuk merusak keikhlasan kita dari pintu mana pun. Karena itu, bila sedikit saja timbul perasaan tidak ikhlas di hati, segeralah ingat dan meminta ampun kepadaNya. Hal kedua yang perlu diperhatikan seorang muslim yang ingin meraih haji mabrur adalah kesesuaian amalan-amalan haji yang dilaksanakannya dengan tuntunan Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda, "Contohlah cara manasik hajiku!" (HR Muslim). Dengan demikian, seorang muslim yang ingin meraih haji mabrur harus mengetahui dengan benar apa saja rukun, kewajiban, sunnah, dan larangan haji yang diajarkan Rasulullah. Ia juga harus berusaha meninggalkan tindakan-tindakan yang tidak ada contohnya dari Rasulullah. Karena tidak ada jaminan tindakan-tindakan tersebut akan mendapat pahala dari Allah. Berbeda halnya bila kita mengikuti tuntunan Rasulullah, maka jaminannya adalah Allah sendiri. Di sini, pengetahuan terhadap amalan-amalan haji yang sesuai tuntunan Rasulullah adalah hal mutlak. Haji mabrur tidak akan diraih bila seseorang tidak mengetahui dengan benar apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkannya ketika berada di tanah suci. Harta yang Baik Di antara tuntunan lain yang diajarkan Rasulullah adalah berhaji dengan harta yang baik. Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah itu baik, Dia tidak menerima kecuali dari yang baik." (HR. Muslim) Secara umum, ibadah tidak akan diterima jika kita memanfaatkan sarana ibadah dari sumber-sumber yang tidak halal. Kelanjutan hadis di atas menegaskan hal ini. Rasulullah berkata, "Bagaimana mungkin akan dikabulkan, doa orang yang makanannya, minumannya, pakaiannya, dan pendapatannya haram, sekalipun ia terus menerus menengadahkan tangannya ke langit." Hal ketiga yang harus diperhatikan seorang muslim yang ingin meraih haji mabrur adalah patuh pada setiap perintah dan larangan Allah. Tak hanya perintah dan larangan yang berkaitan dengan haji tapi juga perintah dan larangan Allah secara umum. Ini kewajiban seorang muslim kapan dan di mana pun ia berada. Istilah "haji mabrur" sendiri, menurut sebagian ulama berarti "haji yang di dalamnya tidak ada maksiat atau haji yang baik". Di dalam surat al-Baqarah ayat 177, al-Qur'an menyebut al-birr (asal kata mabrur, yang artinya kebaikan) sebagai kebaikan yang memiliki dimensi vertikal dan horizontal. Dalam pengertian ini, haji mabrur adalah haji yang dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan baik dengan Allah dan lingkungan sekitarnya. Namun begitu, kita memang tidak bisa menilai apakah seseorang itu benar-benar mencapai haji mabrur atau tidak. Itu hak Allah. Namun kita bisa mengenali ciri-ciri orang yang meraih haji mabrur, antara lain, perubahan pribadi ke arah yang positif. Perubahan ini mencakup hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan lingkungan sekitar), juga mencakup kualitas ibadah jasmani dan rohani. Bila tadinya tidak pernah beribadah, menjadi rajin beribadah. Bila sudah rajin beribadah, menjadi lebih rajin lag. Bila tadinya pendendam, menjadi pemaaf. Bila tadinya pemaaf, menjadi lebih pemaaf, dan seterusnya. Perubahan ini pada dasarnya disebabkan oleh intensitas penghayatan dan pemaknaan terhadap ibadah haji itu sendiri. Di dalam surat al-Hajj ayat 58, Allah menjelaskan salah satu tujuan haji: "Agar mereka (orang-orang yang melaksanakan haji) menyaksikan manfaat-manfaat bagi mereka." Wallahuala SIFAT HAJI MABRUR Haji mabrur itulah yang didambakan setiap orang karena balasannya tentu saja surga. Namun haji mabrurbukanlah suatu slogan atau titel. Ada beberapa sifat yang mesti dipenuhi, barulah seseorang yang berhaji bisa menggapai derajat mulia tersebut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara umrah yang satu dan umrah lainnya akan menghapuskan dosa di antara keduanya dan haji mabrur tidak ada bahasannya kecuali surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). Hadits di atas disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani ketika mengawali pembahasan dalam kitab haji pada hadits no. 708. Hadits tersebut menerangkan mengenai keutamaan haji mabrur dan balasannya adalah surga. Ibnu ‘Abdil Barr dalam At Tamhid (22: 39) mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak ada riya’ (ingin dipandang orang lain), tidak sum’ah (ingin didengar orang lain), tidak ada rofats (kata-kata kotor di dalamnya), tidak melakukan kefasikan, dan berhaji dengan harta halal. Kita dapat katakan bahwa sifat haji mabrur ada lima: 1. Ikhlas mengharap wajah Allah, tidak riya‘ dan sum’ah. Jadi haji bukanlah untuk cari titel atau gelar “Haji”. Tetapi semata-mata ingin mengharap ganjaran dari Allah. 2. Berhaji dengan rezeki yang halal karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا “Allah itu thoyyib (baik) dan tidaklah menerima kecuali dari yang baik” (HR. Muslim no. 1015). 3. Menjauh dari maksiat, dosa, bid’ah dan hal-hal yang menyelisihi syari’at. Hal-hal tadi jika dilakukan dapat berpengaruh pada amalan sholeh dan bisa membuat amalannya tidak diterima. Lebih-lebih lagi dalam melakukan haji. Dalam ayat suci Al Qur’an disebutkan firman Allah, الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata kotor), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al Baqarah: 197). 4. Berakhlak yang mulia dan bersikap lemah lembut, juga bersikap tawadhu’ (rendah hati) ketika di kendaraan, tempat tinggal, saat bergaul dengan lainnya dan bahkan di setiap keadaan. 5. Mengagungkan syi’ar Allah. Orang yang berhaji hendaknya benar-benar mengagungkan syi’ar Allah. Ketika melaksanakan ritual manasik, hendaklah ia menunaikannya dengan penuh pengagungan dan tunduk pada Allah. Hendaklah ia menunaikan kegiatan haji dengan penuh ketenangan dan tidak tergesa-gesa dalam berkata atau berbuat. Jangan bersikap terburu-buru sebagaimana yang dilakukan banyak orang di saat haji. Hendaklah punya sikap sabar yang tinggi karena hal ini sangat berpengaruh besar pada diterimanya amalan dan besarnya pahala. Di antara bentuk mengagungkan syi’ar Allah, hendaklah ketika berhaji menyibukkan diri dengan dzikir, yaitu memperbanyak takbir, tasbih, tahmid dan istighfar. Karena orang yang berhaji sedang dalam ibadah dan berada dalam waktu-waktu yang mulia. Demikianlah haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ditilik, maka di dalamnya benar-benar berisi pengagungan terhadap syi’ar Allah. Itu nampak dari perkataan dan perbuatan beliau, semoga shalawat dan salam tercurahkan pada beliau. Hanya Allah yang memberi taufik untuk menggapai haji mabrur. — Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 5: 158-161. Diselesaikan di pagi hari, 11 Dzulqo’dah 1434 H di Pesantren Tercinta Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul; Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

12.SIAPKAN GENERASI SHOLEH 18 OKTOBER 2014

SIAPKAN GENERASI SHOLEH REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung, MA Anak shaleh dan berakhlak karimah menjadi dambaan setiap orang tua. Allah SWT mengajarkan agar orang tua berupaya sungguh-sungguh dan berdoa agar termasuk orang yang saleh, bersyukur dan mendapatkan generasi yang saleh (46:15). Begitulah yang dicontohkan Nabi Ibrahim as (37:100, 14:40) dan Nabi Sulaiman as (27:15). Anak shaleh lahir dari orang tua yang shaleh, yakni yang berbakti kepada Allah dan Rasul, orang tuanya dan juga kepada anak-anaknya. Dr Muhammad Nasih Ulwan dalam buku Tarbiyatul awlad fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam), menjelaskan lima metode pendidikan yang berpengaruh untuk menyiapkan generasi shaleh yakni: Pertama; Pendidikan dengan Keteladanan. Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spritual dan emosional anak. Pertanyaannya, apakah orang tua dan guru masih bisa menjadi teladan? Mereka belum bangga menjadikan kita sebagai idola. Untuk itu, kita harus menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan. Beliau diutus oleh Allah SWT sebagai teladan terbaik (uswah hasanah) bagi manusia dalam seluruh aspek kehidupan (33:21), baik sebagai orang tua, suami, tetangga, da’i, pemimpin, pengusaha dan lain-lain. Pribadinya mulia dan sempurna. Aisyah ra. berkata : kana khuluquhu al qur’an (akhlaknya adalah al-Qur’an). Keteladan Beliaulah yang telah melahirkan generasi terbaik yakni shahabat, tabi’in) dan tabi’it-tabi’iin. Kedua; Pendidikan dengan Kebiasaan. Pembiasaan (taw’id) sangat berpengaruh dalam membentuk karakter dan pribadi anak, karena terjadi proses pengulangan yang terus menerus. Sehingga, sadar atau tidak, secara perlahan akan membekas dan menjadi kebiasaan. Di sinilah peran penting pendidik (orang tua dan guru) untuk memilih perkataan, sikap dan perbuatan yang baik. Misalnya, menyuruh mereka shalat pada usia tujuh tahun dan memukulnya pada usia 10 tahun jika tidak menjalankannya. (HR. Abu Dawud). Pembiasaan yang paling berpengaruh berasal dari kedua orang tua, guru dan teman-temannya (lingkungan). Dalam masa tertentu, pengaruh teman atau lingkungan menjadi dominan, maka hendaklah melihat siapa yang menjadi temannya (HR. At-Turmudzi). Ketiga; Pendidikan dengan Nasehat. Setelah keteladanan dan pembiasaan, anak-anak perlu petuah atau nasehat yang baik (mau’idzoh hasanah). Petuah yang menyentuh hati sanubari di waktu yang khusus pula. Petuah yang tulus lahir dari kebersihan hati orang tua dan guru mampu memberi sentuhan dan kesejukan dalam diri anak. Al-Qur’an mengajarkan kita cara memberi nasehat yang baik dengan ungkapan lembut. Hal ini tergambar pada seorang pendidik sejati yakni Lukman al-Kakim (31:13-19). Ungkapan yang santun, yaa bunayya laa tusrik billah (Hai anakku jangan menyekutukan Allah) Begitu pula ungkapan Nabi Nuh As. (Hud:42), Nabi Ya’kub as. (Yusuf:5), Nabi Ibrahim as. (2:132). Keempat ; Pendidikan dengan Perhatian (pengawasan). Keteladanan, pembiasaan dan nasehat yang diberikan orang tua belum cukup jika tidak dibarengi dengan perhatian atau pengawasan ketat. Orang tua harus terlibat dan memberikan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengiringi perkembangan anak. Mereka tumbuh dalam zaman yang berbeda dengan kita dahulu. Pengaruh dan godaan semaikn kompleks dan bervariasi. Seringkali terjadi, karena kurang perhatian dan pengawasan orang tua, menyebabkan anak kehilangan pegangan. Pemerkosaan, pembunuhan, hubungan seks bebas, terlibat narkoba, kriminal dan seterusnya, sebagian besar terjadi karena kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua (66:6) dan kelak akan diminta pertanggung jawaban (HR. Bukhari Muslim). Kelima; Pendidikan dengan Hukuman. Upaya maksimal orang tua dan guru melalui metode pendidikan di atas, adakalanya tidak berhasil atau kurang mendapat perhatian anak. Pendidikan Islam memberikan ruang untuk melakukan hukuman atau sanksi (‘iqob) yang mendidik (ta’zir). Hukuman bukan untuk menyakiti tapi pencegahan (preventif) dan menimbulkan efek jera (kuratif). Dalam pendidikan anak, hukuman harus dilakukan secara bertahap, lemah lembut dan menghindari kekerasan (HR. Bukhari). Akhirnya, patut kita renungkan, anak yang melihat orang tuanya berbuat dusta, ia tidak mungkin akan belajar jujur. Anak yang melihat orang tuanya berkhianat, ia tidak mungkin belajar amanah. Anak yang melihat orang tuanya mengikuti hawa nafsu, ia tidak mungkin akan belajar keutamaan. Anak yang mendengar orang tuanya mencela, tidak mungkin ia akan belajar bertutur manis. Anak yang melihat orang tuanya marah dan emosi, tidak mungkin ia belajar sabar. Anak yang melihat orang tuanya bersikap keras, tidak mungkin ia belajar kasih sayang”. Allahu a’lam bish-shawab.

11.BERAMAL KONTINYU 11 OKTOBER 2014

AMAL LANGGENG REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Pudji Dwi Setiawati Diriwayatkan dari Siti Aisyah, Nabi SAW masuk ke tempatnya dan di sisinya ada seorang perempuan dari Bani Asad. Lalu, Nabi SAW bertanya, “Siapakah ini?“ Aisyah menjawab, “Si Fulanah (ia tidak pernah tidur malam), ia menceritakan shalatnya. Nabi SAW bersabda, “Lakukanlah (amalan) menurut kemampuanmu. Demi Allah, Dia tidak merasa bosan sehingga kamu sendiri yang bosan. Amalan agama yang paling disukai Allah SWT adalah yang dilakukan oleh pelakunya secara kontinu.’’ (HR Bukhari). Dalam hadis di atas, Rasulullah SAW mengingatkan amalan paling baik dan disukai Allah SWT adalah amalan yang dilakukan secara kontinu. Bukan amalan yang besar atau yang kecil. Amalan kecil bila kontinu lebih baik daripada amalan besar namun dilakukan hanya sekali. Amalan kecil dilakukan secara terus-menerus maka dalam pandangan Allah SWT amalan itu menjadi besar. Sebaliknya, kesalahan (maksiat) yang kecil dilakukan secara terus-menerus, lambat laun menjadi besar sehingga menumpuklah dosa kita. Rasulullah SAW bersabda, ’’Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan secara terus-menerus.'' Artinya dosa kecil yang kontinu akan menjadi dosa besar. Karena itu, melakukan shalat Dhuha dua rakaat setiap pagi lebih baik daripada 12 rakaat cuma sekali. Menunaikan Tahajud dua rakaat setiap malam lebih baik daripada 13 rakaat beserta witirnya namun cuma sekali. Begitu pun membaca Alquran satu ayat setiap hari lebih baik daripada membaca beberapa ayat tapi cuma sekali (hal ini biasanya dilakukan hanya di bulan Ramadhan). Bersedekah Rp 1.000 setiap hari lebih baik dibandingkan bersedekah Rp 100 ribu tetapi hanya sekali. Rasulullah SAW tidak menekankan jumlah rakaat, berapa ayat, dan berapa rupiah melainkan kontinuitas beramal yang baginda inginkan. Dalam beribadah, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya agar melakukannya sekuat tenaga dan semampu kita. Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.’’ (QS Al-Baqarah:286). Dan Nabi SAW bersabda, ’’Kerjakan amal perbuatan sekuat tenagamu, Allah tidak jemu menerima dan memberi sehingga kamu jemu beramal, dan shalat yang disukai adalah yang dikerjakan terus-menerus meskipun sedikit.’’ (HR Bukhari-Muslim). Untuk menjalankan suatu amalan, harus didasari kesabaran dan keyakinan. Tanpa hal tersebut, sulit untuk membiasakan amalan (ibadah). Sebab kesabaran dan keyakinan melahirkan semangat sehingga dalam keadaan apapun kita terus beribadah.

10.HINDARI TAKABUR 4 OKTOBER 2014

HINDARI TAKABUR REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Makmun Nawawi Seorang budak belian yang mempunyai kedudukan terhormat dalam rentang peradaban manusia adalah Lukman al-Hakim. Dia bukan malaikat bukan pula Nabi. Namun, namanya terekam dalam Alquran, bahkan menjadi nama sebuah surah. Sampai-sampai Nabi pun menegaskan, ada tiga orang berkulit hitam yang akan menjadi pemimpin penghuni surga. Salah satunya adalah Lukman al-Hakim. Banyak tamsil berisi pelajaran dari Lukman. Di antaranya pesan agar jangan takabur. Ucapan Lukman kepada anaknya, “Dan janganlah berjalan di muka bumi dengan congkak. Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Lukman: 18). Takabur sering didefinisikan dengan rasa kagum terhadap diri, sikap suka membangga-banggakan, membesar-besarkan, dan membusungkan dada. Lantaran kagum pada potensi dirinya, akibatnya membuahkan sikap arogan, pongah, sombong, dan angkuh terhadap orang lain. Hanya dialah pemilik superioritas dan tak ada seorang pun yang bisa menandinginya. Ar-Razi berujar, “Seseorang yang menyombongkan kudanya tidak mau menukarnya dengan kuda lain yang lebih kencang larinya sebab dia berpandangan tak ada kuda lain yang mungkin berlari lebih cepat dari kuda miliknya.” Mutakabbir (orang yang takabur) percaya dialah satu-satunya pemilik kebenaran, karenanya tak ada kebenaran lain di luar dirinya. Take and give tak masuk dalam kamus kehidupan orang-orang takabur. Dia bebal terhadap inovasi, saran, dan kritik orang lain. Nabi bersabda, “Sesungguhnya takabur adalah mencampakkan kebenaran dan meremehkan manusia.’’ (HR Ath-Thabrani). Takabur tidak hanya berbahaya terhadap orang lain tetapi juga terhadap dirinya sendiri. Dia hanya tahu kelemahan orang lain, sedang boroknya sendiri tak ia sadari. Dia menutup mata rapat-rapat akan kemajuan orang lain. Maka petaka bagi sebuah bangsa yang pemimpinnya dihinggapi penyakit takabur karena tak akan ada alih ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga ia terus berkubang dalam status quo-nya dan tersisih dari percaturan dunia internasional. Karena si takabur berkeinginan memperoleh puja-puji tetapi sesungguhnya ia menuju ambang degradasi. Posisinya justru makin terpuruk. Sufyan ats-Tsauri berucap, “Sesungguhnya kemaksiatan yang tumbuh dari nafsu mempunyai harapan untuk memperoleh ampunan namun setiap kemaksiatan yang lahir karena takabur, tak ada ampun baginya. Karena kemaksiatan iblis itu berawal dari takabur (dia menduga dirinya lebih baik dari Adam), sedang dosa Adam berawal dari nafsu (keinginana untuk mengecap buah pohon terlarang).” Contoh paling gamblang dari sosok takabur adalah Firaun yang karam ditelan lautan. Dia tak hanya sombong dan mengingkari ayat-ayat Tuhan tetapi juga begitu berani mengaku dirinya sebagai Tuhan. Karena itu, belajarlah dari bumi, yang meski berjibun makhuk mengeruk pelbagai karunia darinya namun ia tetap berada di bawah. Jalaludin Rumi, sufi besar Persia abad ke-13 berucap, “Sebuah pohon yang sarat buah-buahan, cabang-cabangnya merunduk ke bumi. Tetapi kemudian pohon itu mengangkat kepalanya ke langit, dapatkah kita berharap memetik dan menikmati buahnya?’’

9.MENTAL MANDIRI 27 SEPT 2014

MENTAL MANDIRI REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nawawi Seperti biasa, setiap akhir pekan, sepasang suami istri meluangkan waktu untuk membeli surat kabar di sudut pasar yang tidak jauh dari rumahnya. Sang suami, termasuk sosok yang berikap ramah kepada siapa pun. Takdir Allah, akhir pekan itu sang penjual surat kabar ternyata tidak menjaga jualannya. Tetapi kios kecilnya tetap buka dengan penjaga yang tidak dikenal. Sosoknya cuek dan sangat tidak perhatian terhadap pembeli, termasuk sang suami tadi. Akan tetapi, sang suami tetap lembut, ramah, dan melempar senyum kepada sang penjual pengganti itu. Tidak ada perubahan pada cara sang suami menghadapi orang, termasuk kepada pedagang pengganti yang cuek itu. Sang istri yang memperhatikan kejadian itu, langsung bertanya kepada suaminya, “Mas, kenapa sih, sama penjual yang kurang perhatian, kok masih ramah juga, pakai senyum lagi,” ucapnya dengan nada kesal. Sang suami pun menatap wajah sang istri sembari menggenggam tangan lembut istrinya. “Mama, kita berbuat baik itu hanya karena Allah bukan yang lainnya. Apakah kebaikan, jika kecuekan dibalas dengan kecuekan yang sama? Lagian, kita bersikap baik kepada siapapun itu bukan karena orang lain berbuat baik kepada kita. Tetapi karena kita ingin Allah ridha kepada kita,” papar sang suami. Peristiwa tersebut, tepatnya apa yang ada pada sosok sang suami adalah bentuk konkret dari independensi mental. Yakni suatu sikap positif atau akhlak mulia yang terus dijaga, diipertahankan dan dilestarikan meski orang lain atau bahkan lingkungan justru negatif. Hal itu pula yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad kala dakwah di Makkah. Setiap kali Rasulullah SAW hendak beribadah ke Baitullah, ada orang kafir yang selalu meludahi beliau. Namun, Nabi Muhammad SAW tidak bereaksi apa pun. Hal itu sama sekali tidak mengundang kemarahan apalagi dendam dalam hatinya. Kejadian berikutnya justru mengejutkan. Kala Rasulullah SAW menuju Ka’bah dan ternyata tidak ada yang meludah, beliau justru bertanya, kemana orang yang biasa meludahinya itu? Setelah mendapat kabar orang itu ternyata sakit, Nabi SAW langsung menjenguknya. Sebagian orang masih bingung dengan peristiwa inspiratif tersebut. Bagaimana mungkin orang yang jahat kepada beliau justru beliau kasihi dan sayangi. Sebagian berpendapat itu bisa dilakukan karena beliau adalah Nabi. Ternyata, kalau kita gali lebih mendalam, sikap demikian adalah bentuk kemampuan seorang Muslim berpikir jernih, sehingga setiap tindakannya tidak lain hanya berlandaskan keimanan dan ketakwaan. Dengan cara seperti itu, independensi mental akan mewujud, sehingga kebaikan tidak saja bisa dilakukan kepada orang yang berbuat baik kepada kita semata. Kepada orang yang jahat pun kita bisa berikan kebaikan. Itulah yang Nabi Muhammad SAW sebut dengan ihsan. “Ihsan adalah hendaklah engkau beribadah kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.’’ (HR Muslim). Hanya dengan ihsan, independensi mental akan terwujud.

8.SEMANGAT KERJA 20 SEPT 2014

SEMANGAT KERJA REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof H Dadang Kahmad Pada pagi hari yang cerah, Rasulullah SAW berjalan bersama para sahabat. Waktu itu, mereka menyaksikan seorang pemuda membelah kayu penuh semangat. Kemudian seorang sahabat berkata, "Seandainya semangat itu digunakan untuk berjihad di jalan Allah..." Rasulullah SAW yang mendengar perkataan sahabat, lantas bersabda, "Apabila keluarnya dia dalam rangka mencari nafkah untuk anaknya yang masih kecil, itu juga termasuk jihad fi sabilillah. Jika keluarnya dalam rangka mencari nafkah untuk orangtuanya yang tua, maka itu juga jihad fi sabilillah. Kalau pun keluarnya dia dalam rangka mencari nafkah untuk diri sendiri demi menjaga harga diri, maka itu juga termasuk jihad fi sabilillah. Tetapi, bila keluarnya dia disertai riya dan hura-hura, maka itu merupakan usaha di jalan setan." (HR Thabrani). Hadis di atas memberi pesan kepada kita, bekerja merupakan aktivitas mulia yang patut dilakukan seluruh Muslim di mana pun berada. Sebab, di dalam Islam, bekerja berarti melakukan aktivitas bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan bekerja, seorang Muslim akan memperoleh dan menghasilkan nilai tambah materi sehingga kebutuhan mereka terpenuhi. Tak heran, bila Nabi Muhammad SAW memasukkan pekerja atau pengusaha pada golongan orang yang melakukan jihad fi sabilillah. Para pekerja, pedagang, pengusaha, dan profesi lain bila dari kedalaman hati berniat memberikan manfaat dari kerja yang dilakukan, posisinya sama dengan jihad. Apa pun profesi asalkan diperoleh dengan halal, pekerjaan itu merupakan bentuk ibadah yang besar pahalanya. Bekerja ialah tradisi kenabian yang paling panjang melintasi zaman. Para Nabi dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tidak bergantung pada pemberian orang lain sebab mereka memiliki profesi masing-masing. Nabi Daud misalnya, menjalani profesi sebagai pengrajin. Nabi Yusuf juga menjalani profesi sebagai bendahara negara. Bahkan, Nabi Muhammad SAW, sebelum diangkat menjadi nabi oleh Allah, bekerja sebagai penggembala dan pedagang. Allah SWT berfirman, "Katakanlah: Wahai kaumku, bekerjalah sekuat kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat demikian. Kelak kamu akan mengetahui, siapakah memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan." (QS Al- An'am [34]: 135). Ayat di atas, mengajarkan kepada kita tentang pentingnya bekerja bersama Allah. Ketika hendak melaksanakan tugas dalam pekerjaan, niat yang ditanamkan hendaknya ditujukan untuk beribadah kepada-Nya. Maka ketika di dunia ada orang miskin, kaya, dan orang berkecukupan, ini bukan berarti derajat di sisi Allah menjadi berbeda. Profesi apapun yang kita jalani dengan penghasilan materi yang kecil, misalnya, belum tentu bernilai kecil di hadapan Allah. Hasil yang baik, dalam ayat di atas, artinya sekecil apa pun yang diperoleh dari pekerjaan kita, harus memiliki manfaat bagi lingkungan sekitar. Kerja keras yang dilakukan siapa pun akan mendapatkan berkah tak terkira bagi kehidupannya. Bagi seorang pekerja keras, Allah SWT akan mengganti setiap tetesan keringatnya tak hanya dengan materi di dunia tetapi juga dengan pahala di akhirat kelak. Islam tidak menganjurkan umatnya untuk menengadahkan tangan mengharap belas kasih orang lain. Dengan bekerja, kita seolah sedang berupaya menciptakan kekuatan umat Islam di kancah global. Karena itulah, tak heran apabila bekerja diposisikan sebagai salah satu bentuk jihad fi sabilillah. Islam menghormati pekerja yang keringatnya membasahi tubuh, daripada peminta-minta yang mengharapkan belas kasih orang lain. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka lebih baik daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik itu memberinya atau tidak." (HR Al-Bukhari dan Muslim). Wallahua'lam

7.JADI MANUSIA BERKARAKTER 13 SEPTEMBER 2014

JADI MANUSIA BERKARAKTER REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: A Ilyas Ismail Pada suatu waktu, Abu Ubaidah bin Jarrah menemani Khalifah Umar bin Khattab dalam sebuah perjalanan ke Syam (Suriah). Mereka bersepakat untuk bergantian dalam menaiki dan menuntun kuda yang mereka gunakan. Menjelang masuk Kota Syam, tiba giliran Umar yang harus menuntun. Merasa tidak enak dan khawatir penduduk Syam melihatnya, Abu Ubaidah mengusulkan agar ia yang menuntun dan Khalifah Umar tetap di kendaraan. Tetapi, Umar menolak. Ia berkata, ’’Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah SWT dengan Islam. Aku tak peduli apa kata mereka.’’ Sungguh menarik yang dikatakan Umar dalam kisah di atas. Kalau mau, sebagai khalifah ia bisa menikmati berbagai fasilitas negara. Misalnya, kendaraan, ajudan, pengawalan, dan lain-lain. Namun, ia menolak semua itu. Ia tetap sederhana, jujur, adil, berani, dan merakyat. Inilah karakter yang diperlukan seorang pemimpin. Karakter adalah kekuatan. Kehebatan manusia tersembunyi di balik karakternya. Dan karakter menunjuk pada tiga makna. Pertama, keutamaan universal yang dipandang baik oleh semua manusia di sepanjang sejarah dan semua kebudayaan. Contohnya adalah ilmu, kearifan, keberanian, kejujuran, dan keadilan. Kedua, puncak kualitas moral yang berarti bertindak benar meski ada tekanan kuat berbuat sebaliknya. Ketiga, karakter menunjuk pada kesejatian diri. Karakter menunjuk pada sikap dan laku perbuatan yang dilakukan seseorang pada saat tak ada seorangpun mengetahui. Karakter merupakan apa yang sejatinya mengenai diri kita. Di sinilah karakter dibedakan dengan pencitraan. Citra adalah anggapan orang tentang diri kita yang belum tentu diri yang sebenarnya. Hal yang diperlukan pemimpin, tentu bukan citra melaikan karakter. Dalam karakter ada kesejatian sedangkan dalam citra ada kamuflase kemunafikan. Karakter menunjuk sesuatu pada yang genuine. Sementara, citra merujuk pada sesuatu yang bersifat artificial. Sengaja dibuat untuk membangun imaji yang positif. Pemimpin yang berkarakter seperti tampak pada diri Khalifah Umar. Dia tampil genuine dan otentik. Ia tidak menyandarkan kemuliaan dan kehormatan diri pada sesuatu di luar dirinya seperti pangkat pakaian, kekayaan, dan hal-hal yang bersifat aksesoris duniawi. Ia cukup percaya diri. Untuk melapangkan jalan kepemimpinannya ia tak perlu mencela dan menjelek-jelekkan pihak lain. Pemimpin yang berkarakter adalah pemimpin optimistik. Berangkat daru integritas dan dedikasinya untuk kemajuan bangsa, ia tak pernah ragu bertindak. Ia pun tak memedulikan olol-olok musuh atau orang yang tidak menyukainya. ‘’Mereka adalag orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut pada cekaab orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehandaki-Nya dan Allah maha luas (pemberian-Nya) dan maha mengetahui.’’ (QS Al Maidah: 54). Maka, belajar dari kepemimpinan Umar, satu hal mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah karakter. Perlu diketahui karakter merupakan takdir keberhasilan pemimpin. Wallahu a’alam.

6.BELAJAR MALU DARI RASULULLAH 6 SEPT 2014

BELAJAR MALU DARI RASULULLAH SIMAK DI ACARA MENU QALBU MBS 92.7 FM JOGJA Oleh: Ina Salma Febriany “... aku terlalu banyak bolak-balik kepada Tuhanku, sehingga menyebabkan aku malu kepada-Nya.” (HR Bukhari-Muslim) Untaian di atas ialah petikan percakapan antara Rasulullah SAW dengan Nabi Musa AS selepas Rasulullah mendapatkan perintah shalat saat mi’raj. Sebelum mi’raj, Rasulullah dihantarkan Jibril sejenak mengunjungi Masjidil Aqsha sebagai penghormatan suci bahwa sebelumnya tempat itu (Baitul Maqdis) pernah menjadi kiblat umat Islam sebelum Ka’bah. Sedangkan mi’raj, diartikan sebagai naiknya Rasulullah hingga banyak memperoleh pelajaran dari para nabi yang dikunjungi pada langit pertama hingga langit ketujuh. Ya, Isra dan Mi’raj. Pada akhirnya, perjalanan spiritual ini menjadi saksi bahwa perintah shalat yang disampaikan melalui Rasulullah SAW tidak serta-merta berjumlah lima waktu shalat. Ada proses panjang sehingga Rasulullah memperoleh hasil akhir menjadi lima waktu yang dalam hadis Shahih Bukhari-Muslim, sebelumnya adalah 50 waktu. Sungguh bilangan yang jika saja hingga detik ini berlaku demikian, kelak seperti apa yang diprediksikan Nabi Musa as, “Umatmu takkan sanggup Ya Rasul”. Tentu bukan tanpa alasan Nabi Musa AS berkata demikian kepada Rasulullah SAW. Sesuai pengalaman beliau memimpin Bani Israil bertahun-tahun lamanya, hanya sedikit dari umatnya yang bersedia menjalankan perintah ibadah yang dianjurkan Allah SWT. Dalam hadis tersebut juga dilukiskan bahwa dialog panjang antara Rasulullah dan Musa terjadi hingga Rasulullah hampir bolak balik menghadap Allah—memohon keringanan atau pengurangan waktu hingga hampir empat kali. Bayangkan, empat kali, hingga Beliau merasa malu terus menerus menuntut keringanan yang diusulkan Nabi Musa AS. Proses panjang inilah yang kemudian sebaiknya menjadi renungan bahwa Rasulullah SAW memperjuangkan bilangan waktu shalat sesuai dengan apa yang kita mampu. Pada kenyataannya, apa yang disampaikan Nabi Musa adalah benar, umat Rasulullah (tidak) semua mampu. Sebab, banyak yang mengaku Muslim, mengerjakan shalat, tapi lalai dalam waktunya, hingga Allah SWT sebut dalam surah al-Ma’un dengan sahun, yakni orang-orang yang lalai terhadap waktu shalat. Ayat empat dalam surah tersebut menyebutkan betapa “celakanya” orang-orang yang shalat, “yakni” orang yang tidak menghiraukan waktunya alias menundanya. Shalat akan menjadi sebuah rutinitas yang membosankan jika kita belum mengetahui tujuan dari shalat, yakni amr ma’ruf nahi munkar, yang berarti suatu usaha untuk mempertahankan perbuatan baik dan mencegah keburukan. Oleh karenanya, shalat memerlukan kehadiran batin, hati, pikiran, hingga seluruh anggota tubuh untuk merendah di hadapan-Nya. Shalat juga harus melahirkan ihsan, atau perasaan takut kepada Tuhan. Sehingga, diharapkan bahwa shalat betul-betul menjadi sarana yang ampuh untuk mengusir segala bentuk dorongan atau hasrat keji, entah itu menzalimi diri sendiri, melukai orang lain, atau memakan harta hasil korupsi. Wallahu a’lam.

5.SEDEKAH KE SUAMI 30 AGUSTUS 2014

NIKMATNYA SEDEKAH REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Moch Hisyam Diriwayatkan dari Zainab ats-Tsaqafiyah, istri Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai kaum wanita bersedekahlah kamu sekalian walaupun dari perhiasanmu.” Zainab berkata, “Saya pulang menemui Abdullah bin Mas’ud (suamiku), dan menyatakan, “Sesungguhnya engkau laki-laki yang sedikit penghasilannya sedangkan Rasulullah SAW memerintahkan kami bersedekah maka datangilah dan bertanyalah kepada beliau. Kalau boleh, saya bersedekah kepadamu dan kalau tidak boleh saya berikan kepada orang lain.’’ Abdullah berkata, ‘’Kamu sendirilah yang datang kepada beliau.’’ Maka saya pun berangkat ke tempat Rasulullah SAW dan di sana ada seorang wanita Anshar yang berada di pintu beliau untuk menyampaikan permasalahan yang sama. Keluarlah Bilal untuk menemui kami. Kamipun berkata kepada Bilal, ’’Temuilah Rasulullah SAW dan kabarkanlah beliau kalau ada dua orang wanita yang berada di depan pintu beliau yang akan bertanya apakah boleh sedekah diberikan kepada suami dan anak-anak yatim yang diasuh keduanya? Dan jangan kamu jelaskan siapa kami ini.’’ Bilal kemudian masuk dan menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW, beliau bertanya, ‘’Siapakah dua wanita itu? Bilal menjawab,’’ Seorang wanita Anshar dan Zainab.’ Tanya beliau pula,’’Zainab yang mana?’’ Ia menjawab,’’Istri Abdullah.’’ Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘’Bagi kedua wanita itu mendapatkan dua pahala, yaitu pahala (menyambung) kerabat dan pahala sedekah.” (Muttafaqun ‘alaih). Hadis di atas memberikan pelajaran penting kepada kita, boleh hukumnya seorang istri bersedekah kepada suami terutama bila suaminya belum bekerja atau memiliki penghasilan yang sedikit. Bahkan, seorang istri diperbolehkan mengeluarkan zakat wajibnya kepada suaminya yang fakir atau miskin atau termasuk dalam kriteria orang yang berhak mendapatkan zakat. Itu karena seorang istri tidak memiliki kewajiban menafkahi suaminya. Bersedekah kepada suami merupakan bagian penting yang harus diperhatikan oleh seorang istri. Sedekah yang dikeluarkan oleh istri kepada suaminya tidak hanya akan menumbuhkan jalinan yang harmonis dengan Allah SWT juga menjadi sebab terjalinnya hubungan yang mesra dengan suami dan anggota keluarganya. Ketika seorang istri bersedekah kepada suaminya, ia mendapatkan dua pahala, seperti sabda Rasulullah SAW di atas, “Bagi kedua wanita itu mendapatkan dua pahala, yaitu pahala (menyambung) kerabat dan pahala sedekah.” (Muttafaqun ‘alaih). Selain itu, ketika seorang istri bersedekah kepada suaminya sesungguhnya ia telah merealisasikan hikmah dan tujuan dari pernikahan yang membuat tali ikatan pernikahan semakin kuat dan kokoh. Di antara tujuan dan hikmah pernikahan adalah mengatur hubungan laki-laki dengan wanita berdasarkan asas pertukaran hak, saling menolong dan saling kerja sama yang produktif dalam suasana cinta kasih dan perasaan saling menghormati yang lain. Oleh karena itu, bila seorang istri hendak bersedekah perhatikan dulu suaminya apakah ia layak disedekahi atau tidak sebelum bersedekah kepada orang lain. Karena bersedekah kepada suami yang fakir harus diutamakan sebelum bersedekah kepada yang lainnya. Dalam praktiknya, sedekah kepada suami yang belum memiliki penghasilan atau berpenghasilan rendah tidak hanya dengan materi. Memotivasi suami agar bersemangat mencari nafkah untuk keluarga merupakan bagian dari sedekah juga yang layak diperhatikan dan dilakukan seorang istri. Wallahu’alam

4.NIKMATNYA BERSYUKUR 23 AGUSTUS 2014

NIKMATNYA BERSYUKUR SIMAK DI ACARA MENU QALBU 23 AGUSTUS 2014 DI MBS 92.7 FM JOGJA REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Bahrus Surur-Iyunk Bagi warga Muhammadiyah, nama KH Abdul Rozak Fachruddin (alm) cukup dikenal. Beliau sering disebut Pak Fachruddin atau Pak AR saja. Beliau adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah paling lama, yaitu 22 tahun (1968-1990). Meski memegang kendali kepemimpinan ormas Islam modernis terkaya di Indonesia namun ia tetap berpenampilan sederhana dan bersahaja. Beliau sangat merakyat dan akrab dengan warga Muhammadiyah yang ada di tingkat desa atau ranting. Sukriyanto AR, putra Pak AR yang sekarang menjadi Ketua PP Muhammadiyah, pernah bercerita. Pada tahun 1963-an, Pak AR pernah diundang Pimpinan Ranting Muhammadiyah Krendetan, Purwodadi, Jawa Tengah. Perjalanan yang cukup jauh dari Yogyakarta itu ditempuh dengan naik kendaraan umum, sehingga tiba di Krendetan pada sore hari. Di rumah salah seorang warga Muhammadiyah, beliau disuguhi teh yang kurang manis. Kata tuan rumah, “Maaf Pak AR, tehnya kurang manis”. Kata Pak AR, “Ndak apa-apa, malah kebetulan. Kata dokter, kalau kebanyakan gula bisa kena kencing manis.” Selesai shalat maghrib di masjid, Pak AR diajak makan malam. Rupanya, makanan yang disuguhkan tuan rumah kurang garam. Sang tuan rumah pun meminta maaf sembari memanggil istrinya. Tapi, apa kata Pak AR, “Tidak apa-apa. Tidak usah repot-repot. Kebetulan, kata dokter, kalau kebanyakan garam bisa kena darah tinggi.” Sehabis makan malam, Pak AR mengisi pengajian hingga larut malam. Pak AR pun dipersilahkan untuk beristirahat di dalam sebuah kamar yang telah disiapkan. Tenyata, di dalamnya tidak ada dipan dan kasur yang nyaman. “Mohon maaf Pak AR, tidak ada dipannya. Yang ada hanya kasur tipis,” begitu pemakluman dari tuan rumah. Lagi-lagi Pak AR berkilah, “Terima kasih, ndak apa-apa. Malah tidak akan jatuh. Kalau pakai dipan kadang-kadang jatuh.” Begitu sang tuan rumah melihat lampu redup yang watt-nya kecil, lagi-lagi ia meminta maaf kepada Pak AR. Namun, bagi Pak AR, “Tidak apa-apa. Kebetulan, kalau lampunya redup saya malah cepat tidur.” Sang tuan rumah pun menimpali, “Wah, kalau dengan Pak AR ini kok serba kebetulan semua ya”, sambil tersenyum. Apa yang dilakukan Pak AR di atas adalah salah satu cara mensyukuri nikmat Allah, yaitu dengan mengambil hikmah dan sisi positif dari setiap kejadian kehidupan yang kita alami. Seseorang yang bersyukur akan senantiasa berpikir positif atas segala kejadian yang menimpanya. Cara ini juga akan mengantarkan kepada prasangka baik terhadap ketentuan Allah. Ia tidak mudah menyalahkan realitas yang mengelilinginya dan tidak pula berprasangka buruk apalagi menyalahkan Tuhan. Hidup akan terasa lapang dan tidak sempit. Cara kedua adalah mengingat kenikmatan dan kebaikan yang diberikan Allah. Jika seseorang hanya mengingat kekurangan dan ketidaknyamanan, ia akan merasakan hidup ini dengan penuh kekecewaan. Hatinya nelangsa, gelisah, dan selalu diliputi kegalauan. Ketika seseorang ditimpa ujian di salah satu organ tubuhnya, misalnya luka atau sakit gigi, ia merasa seakan sudah tidak ada kenikmatan lagi hidup di dunia ini. Padahal, masih banyak kenikmatan lain yang bisa ia rasakan. Sebaliknya, jika yang diingat lebih banyak atau hanya kenikmatan dan kebaikan hidup, ia akan merasakan hidup ini penuh bahagia dan lebih optimistis. Cara ketiga adalah mengukur diri dengan orang lain yang lebih rendah secara duniawi. Rasulullah SAW bersabda, “Pandanglah orang yang lebih rendah daripadamu (secara duniawi) dan janganlah memandang kepada orang yang lebih tinggi daripadamu, karena yang demikian itu lebih baik agar kamu tidak memperkecil nikmat karunia Tuhan yang telah diberikan kepadamu.” (HR Bukhari Muslim). Jika seseorang memiliki mobil meski tidak baru, ia bersyukur karena tidak kehujanan dan kepanasan seperti pengendara sepeda motor. Saat ia mempunyai sepeda motor, ia bersyukur karena bisa bekerja dan lebih cepat sampai rumah daripada mereka yang bersepeda onthel. Begitu juga ketika ia menaiki sepeda biasa, ia bersyukur dibandingkan mereka yang bisanya hanya berjalan kaki, dan seterusnya. Dan cara keempat adalah dengan berdoa agar kita senantiasa diberi inspirasi untuk bersyukur. Meski sudah ditetapkan sebagai seorang nabi dan rasul, Sulaiman masih tetap berdoa agar ia senantiasa diberi ilham dan insiprasi untuk tetap bersyukur kepada Allah. Dalam perjalanan menuju Kerajaan Ratu Bilqis, ia bersama tentaranya sampai pada suatu lembah. Di sana terdapat sarang-sarang semut. Tanpa diketahui tentaranya, Nabi Sulaiman memperhatikan gerak-gerik dan pembicaraan para semut yang keluar dari sarangnya. Rupanya seorang komandan semut sedang memerintahkan teman-temannya tidak keluar dari sarangnya. Sebab, bala tentara Sulaiman ada di atas sarang mereka. Tentara itu akan menginjak begitu saja, karena mereka tidak merasa apapun. Nabi Sulaiman yang mendengar dan mengerti bahasa semut lantas tersenyum tertawa. Nabi Sulaiman berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku isnpirasi untuk selalu bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kedua orang tuaku dan berbuat baik dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan orang saleh.” (QS An-Naml: 19). Semoga empat kiat ini semakin mengukuhkan kita sebagai orang yang merasakan nikmatnya bersyukur. Amien. Wallahu a’lam.

3.IDUL FITRI VS IDUL NAFSU 2 AGUSTUS 2014

IDUL FITRI VS IDUL NAFSU Ramadhan 1435 H atau 2014 M telah berlalu. saat ini masuk bulan syawal atau bulan Agustus 214. ketika masuk bulan syawal seharusnya orang beriman beridul fitri (kembali suci; kembali semangat mengamalkan ajaran agama islam yang sebagian ajaran utamanya dibiasakan selama bulan Ramadhan, seperti: (1)doa yang intinya syahadatain; (2)ibadah sholat lima waktu berjamaah dan sholat malam berjamaah; (3) ibadah puasa wajib selama bulan Ramadhan; (4) membayar zakat fitrah di akhir bulan Ramadhan hg masuk bulan syawal hingga didirikan sholat iedul fitri; (5) tadarrus Al Quran, tidak hanya membaca tulisan arabnya tapi juga ada yang semangat memahami maknanya hingga bisa memandu jalani kehidupan orang beriman; (6) membaca buku dan ikuti pengajian (kajian ilmu) biasanya ada kultum takjilan; kultum sebelum tarwih; dan kultum shubuh; (7)berprasangka baik jalani hidup setiap hari selama Ramadhan. itulah idul fitri yang seharusnya terjadi pada orang beriman. tapi setelah ramadhan ada juga yang terjadi yaitu idul nafsu yaitu bukan idul fitri tapi justru kembali nuruti hawa nafsu yang menyimpang dari ajaran islam yang telah sukses dikendalikan selama Ramadhan. kenapa ini bisa terjadi? seharusnya orang beriman dengan puasa ramadhan menjadi taqwa. taqwa itu seharusnya mengawali menyertai mengakhiri dan menindaklanjuti ibadah Ramadhan yang sudah kita biasakan selama Ramadhan. awal ramadhan taqwa oke saat ramadhan seharusnya juga oke akhir ramadhan makin taqwa seharusnya juga oke nah, setelah ramadhan idealnya orang beriman juga makin oke taqwanya bagaimana dengan kita? mari kita pilih diri kita dalam posisi yang mana saat menghadapi masalah 1.apakah kita saat hadapi masalah dengan marah; ngeluh; cari kambing hitam 2.apakah kita saat hadapi masalah dengan sabar tapi makan hati; stress dan stroke? 3.apakah kita saat hadapi masalah dengan tanpa masalah; dengan menikmati masalah; dengan ikhlas? mari terus kita usahakan diri kita selalu taqwa dimana saja dan kapan saja ikuti terus sajian yang disajikan perwirajogja. blogspot. com

2.NIKMATNYA SHOLAT 9 AGUSTUS 2014

NIKMATNYA SHOLAT 2 AGUSTUS 2014 REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Nursalim Setiap anggota badan memiliki momentum untuk merasakan kenikmatan. Nikmatnya lidah adalah saat makanan lezat dimasukkan ke mulut. Nikmatnya mata ketika dapat sempurna membedakan warna dan memandang indahnya alam. Nikmatnya hati adalah saat ia berhasil melihat Tuhan. Kata Nabi itulah ihsan yaitu seakan-akan kita melihat Allah SWT bila tidak mampu kita merasakan dilihat Allah. Ini merupakan kenikmatan tertinggi bagi manusia. Kondisi seperti ini dapat diraih seorang mukmin tatkala shalat. Hadirnya hati dalam setiap kalimat yang diucapkan seorang yang shalat merupakan kunci utamanya. Ia betul-betul merasakan sedang dialog dengan sang Pencipta. Itulah jenis shalat yang berkualitas sehingga Allah SWT menjanjikan pemenuhan segala yang diminta orang yang shalat itu. Seperti sabda Nabi SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah,’’ Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda, “Allah berfirman. Aku bagi shalat itu menjadi dua bagian satu untuk-Ku dan satu bagian untuk hamba-Ku. Bila hamba-Ku mengucapkan Alhamdu lillahi rabbil Alamin. Allah berfirman “Hambaku telah memujiku”.Jika hamba-Ku membaca Arrahmanirrahim. Allah berfirman “Hambaku telah mengagungkan Aku”.Jika hambaku membaca Maliki Yaumi Al Din. Allah menimpali “Hambaku telah memuliakan Aku”. Dan sekali lagi Allah berfirman “Hambaku memberi kuasa penuh kepadaku”. Merasakan dialog dengan Allah. Itulah perasaan yang dapat dinikmati orang yang khusyuk shalatnya. Saking asyiknya bercengkerama dengan sang Khaliq ia tidak merasakan sakit tatkala sebuah anak panah yang menancap di kakinya dicabut. Begitulah yang dirasakan Ali bin Abi Thalib. Alkisah dalam sebuah peperangan menantu Rasulullah itu terkena panah. Lalu ia meminta tolong kepada kawannya agar panah tersebut dicabut saat dirinya sedang shalat. Walaupun darah mengucur Ali tidak mengerang kesakitan sebab hatinya sedang melihat Tuhan. Yang dialami Urwan bin Zubeir lebih dahsyat lagi. Kakinya harus diamputasi dengan gergaji tanpa obat bius. Sahabat ini menyiasatinya dengan mengambil air wudhu dan bermunajat kepada Allah. Di tengah-tengah shalatnya itulah tim kesehatan menggergaji kakinya. Atas karunia Allah ia pingsan beberapa jam dan setelah operasi selesai baru siuman. Orang-orang saleh menikmati shalat dengan menangis. Ketika hati dapat meresapi doa yang dipanjatkan dalam shalat maka itulah asyiknya bermunajat kepada Allah. Begitupun saat bacaan Alquran yang dilantunkan menyayat hati. Dari Ibnu Abas berkata aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua mata yang tidak akan dijilat api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah.’’ (HR Tirmizi) Menangis karena sedih itu biasa tetapi menangis karena takut siksaan Allah, luar biasa. Efeknyapun sangat berbeda. Orang yang kebanyakan menangis karena sedih membuatnya tidak selera makan sakit maag kambuh dada sesak dan kepala pusing. Menangis karena bermunajat kepada Allah justru membawa kesegaran luar biasa. Sebab orang yang dapat mengucurkan air mata ketika shalat telah menyerahkan semua urusan hidupnya kepada sang pengurai masalah yaitu Allah. Maka hatinyapun menjadi riang karena tawakal. Hati yang seperti itu membawa energi yang sangat kuat. Karena itu bila ia seorang pedagang tidak akan menyerah walaupun bangkrut. Bila ia aktivis tidak akan gentar, dan bila ia pejuang tidak takut kematian.