Sunday, November 13, 2016

BENING HATI

Dalam satu bait syairnya, Jalaludin Rumi berkata, "Tinggikan kata-katamu, bukan suaramu. Hujanlah yang tumbuhkan bebungaan, bukan halilintar." Ungkapan puitis di atas seolah dipermudah untuk dipahami oleh Aa Gym dalam bukunya Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qalbu. Bahwa, mulut manusia bak teko yang mengeluarkan isinya. Jika berisi kopi, keluar kopi, tapi jika isinya air yang bening, pasti akan keluar air yang bening. Yang berisi kopi, air bening atau selainnya itu tidak lain adalah hati. Oleh karena itu menjaga kebeningan hati adalah suatu keniscayaan, agar semua yang diucapkan dan dilakukan benar-benar bermanfaat. Dengan kata lain, kebaikan itu tidak bersumber dari kerasnya suara, tetapi kuatnya hati yang tetap terjaga kebeningannya. Sekalipun kala bicara, nadanya biasa, kalimatnya sederhana. Mengenai hati ini, Fakhruddin Ar-Razi dalam bukunya Aja'ibul Quran memberikan suatu penjelasan, mengapa Allah mengibaratkan hati dengan bintang bukan matahari. Di antara jawabannya adalah karena bintang merupakan hiasan bagi langit dan hati pun hiasan bagi manusia. Demikianlah manusia, mereka yang hatinya bening akan indah tutur kata dan amal perbuatannya, inilah sebaik-baik hiasan bagi manusia. Dari sini dapat dipahami dengan terang benderang, mengapa Allah mendidik umat Islam tentang sebuah doa yang titik tekannya adalah bagaimana yang ada bersama kita bisa menjadi penyenang hati. "Ya Tuhan kami, anuegrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS Furqan [25]: 74). Terhadap makna ayat tersebut, Ibn Katsir dalam tafsirnya mengutip pendapat Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, "Yaitu mereka meminta kepada Allah untuk istri dan keturunan mereka agar diberi hidayah kepada Islam." Dengan demikian perkara kebeningan hati adalah perkara utama. Sebab hanya dengan kebeningan hati itulah hidayah bisa meresap ke dalam jiwa, sehingga hati terus memantulkannya lewat tutur kata dan tindakan yang indah dan menggetarkan. Dan, terkait kebeningan hati ini Allah telah jelaskan ciri-cirinya dengan sangat jelas. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka.” (QS al-Anfal [8]: 2). Kemudian Allah kembali mengingatkan, “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’du [13]: 28). Dengan demikian, siapa yang menghendaki kebeningan hati hendaklah mengkaji kebaikan dan memelihara diri dari keburukan, seperti iri-dengki, suka marah, gila hormat dan sombong sekalipun memiliki kedudukan tinggi di tengah-tengah masyarakat, baik ilmu, pangkat, pengaruh maupun kekayaan. Imam Syafi’i rahimahullahu pernah berkata, “Duhai, aku berangan-angan andai saja ilmu yang kuajarkan ini dapat tersebar di tengah manusia tanpa perlu namaku disebut-sebut oleh mereka." Demikianlah salah satu bukti kebeningan hati, yang kita patut meneladaninya dalam segala sisi kehidupan.

Friday, November 11, 2016

WIRAUSAHA JAMAAH MASJID

Bertempat di Sekretariat PP DMI, Jl Borobudur No. 22 Menteng Jakpus, Dept. Pemberdayaan Ekonomi Umat dan IPTEK bekerjasama dengan PT Gas Negara menyelenggarakan Pelatihan Ekonomi Umat berbasis masjid. Kegiatn ini berlansung selama tiga Hari. Hari pertama pelatihan, M. Jusuf Kalla selaku Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia berkesempatan memberikan kata sambutan dan pembukaan. JK, biasa orang menyebut, mengatakan bahwa masjid harus memiliki banyak fungsi. Masjid tidak hanya digunakan untuk melakukan ibadah, tetapi masjid juga harus memiliki fungsi yang luas. “Selain tempat untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik, masjid harus berfungsi sebagai hablumminannas,”kata JK. Banyak yang bisa dilakukan didalam masjid, tambah JK. Diantaranya kita bisa melakukan pemberdayaan ekonomi umat. masjid bisa dijadikan sentral untuk melakukan pembinaan ekonomi umat. Kita tidak boleh keluar dari konsep kita, imbuhnya. Konsep kita adalah “Memakmurkan Masjid dan Dimakmurkan Masjid”. Oleh karenya kita mengawalinya dengan kegiatan bagaimana caranya kita memakmurkan masjidnya terlebih dahulu. Setelah itu baru kita memakmurkan jamaahnya. Dengan kegiatan seperti ini masjid sudah memposisikan diri untuk mensejahterakan jamaahnya. Kegiatan pelatihan yang direncanakan berlangsung selama tiga hari ini didanai oleh Pt PGN, yang diambilakan dari dana CSR nya. Kegiatan ini rencananya akan diadakan secara terus menerus. “tentunya, kita akan menghadirkan masjid yang berbeda dari masjid masjid sebelumnya yang mengikuti pelatihan ini,”jelas H. Sugijono, Ketua Pelaksana Pelatihan

Tuesday, November 8, 2016

SENTUHAN IBADAH

SENTUHAN KASIH SAYANG IBADAH Para ahli psikologi mengatakan, sentuhan dapat membuat seseorang merasa lebih baik. Digambarkan, saat seseorang yang sangat takut ketinggian, hingga setiap naik pesawat terbang, ia selalu mengandalkan obat tidur sebelum naik pesawat. Namun, tatkala penerbangan yang paling hebat adalah melintasi padang luas nan panas Benua Afrika, dengan daya turbulensi tinggi, obat tidur pun tidak memberikan efek kerja maksimal. Hingga datanglah seseorang menyentuh dan menggenggam tangannya. Ia pun merasa jauh lebih tenang dibandingkan menggunakan obat tidur. Menurut dokter, sentuhan terhadap pasien juga dapat mempercepat kesembuhan bagi orang yang sakit. Apalagi jika dibarengi dengan pijatan lembut, usapan disertai doa dan motivasi. Lebih utama lagi, dalam pandangan Islam, ada beberapa sentuhan yang bukan sekadar menempelkan kulit dengan kulit. Bahkan, sentuhan justru dapat mendatangkan pahala. Pertama, mengusap kepala anak yatim atau piatu. Mereka telah kehilangan salah satu kekuatan terbesarnya dalam hidup, ayahnya, ibunya, atau yatim piatu keduanya. Mereka bukan sekadar kehilangan sumber nafkah, pakaian, pendidikan, dan perlindungan di rumahnya, melainkan juga kehilangan kasih sayang terbesarnya. Karena itu, Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk menyayangi dan menyantuni mereka dengan baik. Jika tidak, apalagi sampai menghardiknya, maka dapat dikategorikan sebagai pendusta agama. Firman Allah, Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS al-Maun [107]: 1-3). Kedua, berjabat tangan sesama Muslim. Pada era media sosial saat ini, dengan kegemaran chatting lewat dunia maya, jarang sekali antarmanusia bertemu di dunia nyata. Sekali bertemu, seperti saat berpapasan naik motor atau mobil, hanya membunyikan klakson. Padahal, alangkah baiknya jika turun dan saling berjabat tangan. Maka mereka akan diampuni dosa-dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, Tidaklah dua orang Muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka sebelum mereka berpisah. (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi Ibnu Majah, dan Ahmad). Ketiga, orang tua mengusap dan mencium anak. Ini merupakan tanda kasih sayang. Seperti disebutkan dalam hadis, saat Nabi SAW mencium cucunya, Hasan bin 'Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro' bin Habis At-Tamimy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro' berkata, Aku punya 10 anak. Tidak seorang pun dari mereka yang pernah kucium. Maka Rasulullah SAW pun melihat Aqro' dan berkata, Barang siapa yang tidak menyayangi anak, maka ia tidak akan disayangi (Allah). (HR Bukhari dan Muslim). Karena itu, jika anak kita terjatuh, janganlah hardik atau marahi dia sebab dia sedang sakit. Tetapi, usaplah mana yang sakit serta tenangkanlah. Keempat, sentuhan tangan anak pada orang tuanya. Misalnya, ketika akan berangkat sekolah, bekerja, atau berpamitan pergi. Maka, sang anak pun serta-merta menjabat tangan dan mencium tangan orang tuanya, lalu mengucap salam. Demikian pula ketika orang tuanya sakit, sang anak ada di dekatnya, sambil memijat lembut tangan atau kaki orang tuanya. Bahkan, mencium keningnya tanda kasih. Seraya membaca doa atau ayat-ayat Alquran. Kelima, sentuhan mesra sang suami kepada istrinya. Jika lawan jenis bukan mahram saling bersentuhan adalah perbuatan maksiat dan berdosa. Tetapi, sentuhan suami terhadap istri, seperti bergandengan tangan, justru merupakan pahala dan menambah kasih sayang. Sentuhan-sentuhan penuh pahala yang menumbuhkan kasih sayang itu layaklah kiranya kita lakukan sepanjang waktu 4112016

KEUTAMAAN SYUKUR

KEUTAMAAN SYUKUR Dalam kesempatan yang sangat berkah ini izinkan saya mengajak kepada kita semua untuk bersama-sama bersyukur kepada Allah SWT. Puncak kesyukuran kita karena kita diciptakan sebagagi manusia dengan segala keagungannya. Manusia satu-satunya makhluk yang diciptakan langsung dengan 'kedua Tangan Tuhan' (Khalaqtu bi yadayya/Q.S. Shad/38:75). Tidak satupun makhluk-Nya, termasuk malaikat, yang di-taqyid-kan dengan dua Tangan Tuhan selain manusia. Seolah-olah manusi satu-satunya yang menjadi “hand made” Allah SWT dengan segala kesempurnaannya. Dalam kitab-kitab Tafsir Isyary, 'dua tangan Tuhan' difahami sebagai kualitas keagungan (jalaliyyah) dan kualitas keindahan (jamaliyyah), atau kualitas maskulin dan feminine. Kedua kualitas ini menyatu secara utuh di dalam diri manusia. Itulah sebabnya manusia satu-satunya makhluk eksistensialis, yang bisa turun naik martabatnya di sisi Allah SWT. Manusia bisa menjadi makhluk termulia (ahsan taqwim/Q.S. al-Tin/95:4), bahkan bisa mlampaui kemampuan malaikat, seperti pengalaman Isra’-Mi’raj Nabi mencapai puncak Sidrah Muntaha. Sebaliknya, manusia juga bisa menjadi makhluk paling hina (asfala safilin/QS al-Tin/95:5), bahkan lebih hina dari binatang (ulaika ka al-an’am bal hum adhall/Q.S. al-A‘raf/7:179). Sebagai makhluk eksistensialis, manusia harus bersedia menjalani kehidupannya di antara harapan (raja') dan kecemasan (khauf). Terkadang ia berperasaan jauh dengan Tuhan (tanzih) dan terkadang pula berperasaan dekat (tasybih), bahkan merasa menyatu dengan Tuhan (ittihad). Itulah manusia, senantiasa dibayangingi mix feeling dan fluktuasi kehidupan. Kadang ia tertawa dan kadang menangis. Manusia juga satu-satunya makhluk yang ditiupkan atau di-install ke dalamnya roh suci (ciptaan) Tuhan (wa nafakhtu fihi min ruhi/QS al-Hijr/15:9). Itulah sebabnya, manusia dalam pandangan Alquran sangat mulia, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: (Walaqad karramna bani Adam/Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam/QS Al-Isra'/17:70). Siapa pun yang merasa anak cucu Adam, tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, agama, harus dimuliakan. Bahkan jasadnya kalau sudah menjadi mayat juga harus dimuliakan karena: Al-Mayyit haqqullah/Mayat itu hak Allah Swt). Mengurus jasad mayat adalah fardhu kifayat. Selain kemuliaan dari segi penciptaan, manusia juga disempurnakan dengan penganugrahan akal pikiran (intellect), kalbu (intuition), jiwa (pshichis), dan roh (spirit). Satu-satunya makhluk yang bisa dikategorikan makhluk mikrokosmos (al-‘alam al-shagir) hanyalah manusia, karena hanya manusia yang bisa menghimpun keseluruhan substansi alam semesta. Manusia memiliki unsur tanah sebagai basic creations, memiliki unsur tumbuh-tumbuhan (nabatiyyah), unsur hewan (hayawaniyyah), unsur kesucian (fithriyyah) seperti dimiliki malaikat, bahkan mempunyai roh suci (divine creation), yang tidak dimiliki oleh makhluk manapun. Manusia dalam pandangan sufi sering disebut sebagai al-jam’iyyah al-katsrah. Mungkin karena kelengkapan dan keunikan manusia, maka Allah SWT membebankan kapasitas dan tanggung jawab ganda kepadanya, yaitu selain sebagai hamba (al-‘abid) juga sebagai pemimpin (khalifah) di muka bumi ini. Untuk mendukung kapasitas manusia sebagai khalifah, maka Allah SWT menundukkan (taskhir) seluruh alam semesta kepadanya: "Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS al-Jatsiyah/45:13). Namun perlu diingat, meskipun manusia memiliki berbagai keunggulan, termasuk penyandang kapasitas sebagai khalifah di bumi (khalif al-ardh), manusia tidak lantas harus berbangga dan bebas melakukan perbuatan melampaui batas. Sebagai makhluk, manusia masih tetap memiliki kelemahan fundamental yang perlu selalu disadari. Misalnya, manusia adalah makhluk pelupa (al-gafil/QS al-Nahl/16:108), makhluk emosional (al-mugadhib/QS al-Anbiya’/21:87), makhluk berkeluh kesah (al-jazu’/QS al-Ma’arij/70:20), dan berbagai kelemahan lainnya. Konsep taskhir (penundukan alam semesta) dalam Alquran mempunyai prasyarat. Alam raya tunduk (taskhir) sepanjang manusia menjalankan fungsi kekhalifahannya dengan benar. Manakala manusia melakukan eksplorasi alam yang melampaui ambang daya dukungnya, dan sesama manusia saling menebar fitnah, maka tidak ada jaminan alam semesta akan tunduk kepadanya. Allah SWT menegaskan: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia," (QS al-Rum/30:41). Kesyukuran kita yang kedua ialah Allah SWT memberikan jalan keluar untuk mengatasi berbagai kelemahan mendasar manusia dengan menurunkannya Kitab Suci. Bagi kita yang beragama Islam Kitab Suci Alquran amat sangat penting dan sangat sentral bagi manusia. Kitab Suci Alquran bagi umat Islam bukan hanya sebagai sumber informasi untuk menunjukkan jalan kehidupan baik dan buruk, benar dan salah, tetapi juga sebagai sumber konfirmasi dan referensi untuk menguji kebenaran yang ditemukan oleh akal dan intuisi manusia. Tanpa Alquran banyak kebenaran tidak bisa tersingkap. Bagi umat Islam, Alquran adalah kebenaran sejati sekaligus pandangan hidup. Bahkan dalam keyakinan teologi umat Islam, Alurqan bukan hanya kodifikasi firman Allah tetapi juga sekaligus sebagai perwujudan Kalam Allah (The Speech of God). Dengan kata lain, Alquran bukan hanya Kitabullah tetapi sekaligus Kalamullah. Bagi umat Islam, kesucian Alquran tidak hanya terleptak pada aspek non-fisiknya yang trannsenden, tetapi juga wujud fisiknya berupa mushaf. Alurqan sendiri menegaskan dirinya tidak bisa disentuh kecuali dalam keadaan bersih (La yamassuhu illa al-muthahharun/QS al-Waqi’ah/56:79). Mengingat kompleksitas Alquran tersebut, maka idealnya, biarkanlah umat Islam menyelesaikan urusan Alquran-nya sendiri, sebagaimana agama-agama lain juga mengurus kitab sucinya masing-masing. Sebagaimana halnya umat agama lain, sangat wajar jika umat Islam tersinggung dan marah jika ada orang secara sengaja mendesakralisasi, apalagi menghina Kitab Suci Alquran. Namun di dalam mengekspresikan ketersinggungan dan kemarahan, secara eksplisit Alqurqan mengingatkan tidak perlu melakukan sesuatu yang melampaui batas: "Wa la tusrifu inna Allah la yuhibb al-musrifun/Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan". (QS al-An’am/6:141). Dalam ayat lain ditegaskan: "Wa la tuthi’ al-musrifun/Dan janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas." (Q.S. al-Syura/26:151). Aluran selanjutnya mengingatkan kita dalam sebuah ayat bahwa Ia sendiri akan terlibat di dalam memelihara Alquran: "Inna Nahnu nazzalna al-Zikra wa Inna lahu lahafizhun/Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya," (QS al-Hijr/15:19). Kesyukuran kita yang ketiga, Allah SWT mengutus Nabi dan sekaligus Rasul untuk memberikan penjelasan terhadap Kitab Suci-Nya (al-Mubayyin al-Qur’an). Banyak informasi dan khithab di dalam Alquran bersifat global (mujmal) perlu penjelasan (mufashshal), bersifat umum (‘am) perlu penjelasan khusus (takhshish), dan bersifat absolut (muthlaq) perlu penegasan (muqayyad). Bagi umat Islam, Nabi Muhammad adalah lambang kasih sayang Allah SWT. Kita tidak mungkin memahami seutuhnya Kitab Suci Alquran tanpa penjelasan Rasul-Nya. Bahkan Nabi Muhammad SAW menempatkan diri sebagai teladan (uswatun hasanah) di dalam menjabarkan nilai-nilai Alquran, sebagaimana diungkapkan Sayyidatina ‘Aisyah ra: "Kana khulquhu Al-Qur’an." (Akhlak Rasulullah adalah Alquran). Adalah juga sangat wajar jika umat Islam sangat mencintai beliau. Tentu sangat wajar ummatnya tersinggung jika ada orang yang menghina atau melecehkan Nabi mereka. Termasuk pelecehan Nabi jika ada yang mengaku Nabi atau Rasul sesudah wafatnya. Kesyukuran kita yang keempat ialah kehadiran para ulama sebagai ahli waris intelektual dan spiritual Nabi, sebagaimana diseutkan dalam hadis: 'Al-‘ulama’ waratsah al-ambiya’". Para ulam menempati posisi sebagai 'penyambung lidah' Nabi di dalam menyampaikan nilai-nilai luhur Islam. Dalam tradisi intelektual Islam, posisi ulama atau mursyid di tengah murid atau umatnya betul-betul sangat sentral. Ada qaul mengatakan: "Al-mursyid amam al-murid ka al-Nabiyyi amam al-shahabah" (Ulama di depan umatnya bagaikan nabi di depan para sahabatnya). Adalah wajar jika umat Islam mencintai dan menyayangi ulama dan habaib mereka, dan tentu juga wajar umatnya tersinggung jika mereka dihina, karena mereka sadar, bagaimana mungkin ajaran luhur Islam bisa merasuk ke dada mereka tanpa kehadiran ulama. Kesyukuran kita yang keempat ialah kehadiran umara (Pemerintah). Jika tidak ada pemerintah yang legitimed dan berdaulat, tentu sulit dibayangkan kita bisa menjalankan dengan baik tugas kita sebagai hamba dan khalifah. Kita harus bersyukur dan sekaligus berkewajiban, baik sebagai umat maupun sebagai warga bangsa, untuk memelihara dan mempertahankan eksistensi pemerintah kita sebagai ulil amr. Banyak saudara-sauada kita yang seiman ditempat lain tidak bisa tenang menikmati indahnya bulan suci Ramadhan dan menjalankan ibadah dengan khusyuk karena mereka dilanda peperangan. Adalah wajar jika kita sebagai umat maupun sebagai warga bangsa tersinggung jika ada pihak luar meronrong kewibawaan pemerintah dan NKRI kita. Sinergi ideal antara ulama, umara, dan rakyat itulah sesungguhnya yang disebut kairah ummat (umat ideal). Ada imam atau pemimpin yang berwibawa, ada makmum atau rakyat yang santun, ada imamah atau konsep kepemimpinan yang mengatur hubungan efektif antara imam dan ma’mum, dan ada ummi (Hebrew: rasa cinta atau ikatan batin yang mengikat satu sama lain). Kita berharap, dan sekaligus memohon kepada Allah SWT, semoga senerji antara ulama dan umara, tentunya juga kita sebagai umat dan warga bangsa, selalu terjalin kedamaian dan ketenteraman (baldatun thayyibah wa Rabbun gafur). Ihdina al-shirath al-mustaqim, shirath al-ladzuna an’amta ‘alaihim, gair al-magdhub ‘alaihim wa la al-dhalin. Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. 4112016

AMANAT YANG DIJAGA

AMANAT YANG DIJAGA Anak adalah amanat Allah SWT kepada orang tua. Menurut Imam al-Ghazali, amanat ini mesti dijaga, dirawat dan dididik, serta ditanamkan kebaikan dan kasih sayang dalam hati, rasa, dan pikiran anak. Dengan demikian, si anak tumbuh sempunra akal, akidah, dan akhlaknya. Tumbuh dengan tidak meninggalkan goresan yang bisa membekas hingga dia dewasa. Goresan yang dapat mengubah perilakunya terhadap orang tua dan lingkunganya. Rasulullah sebagai teladan kita telah memberi contoh kepada kita dalam memperlakukan anak. Hadis dari Abu Hurairah RA menyatakan, "Rasulullah mencium cucunya, Hasan bin Ali. Kemudian ada seorang sahabat bernama al-Aqra' bin Haris melihatnya dan ia berkata: Saya memiliki sepuluh anak dan sekali-kali saya belum pernah memberikan ciuman kepada salah satu di antara mereka. Maka Rasulullah bersabda: Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan di sayangi." Dalam hadis ini, kita melihat Rasulullah bersikap lembut dan kasih sayang kepada cucunya. Dalam ilmu psikologi dijelaskan, memberikan ciuman kepada anak memberikan efek kedamaian dan kedekatan batin antara anak dan orang tua. Kedekatan batin ini membuat mereka merasa nyaman dan damai berada di tengah keluarga. Karena tak sedikit anak yang tidak nyaman tinggal dengan keluarga karena dia tak merasakan keindahan dan kedamaian berada di tengah mereka. Sehingga, mereka mencari tempat lain, untuk mengisi kekosongan hatinya. Jika ini terjadi, tidak tertutup kemungkinan si anak mendapatkan masalah kemudian hari. Anak yang terlibat berbagai masalah sosial selalu diawali dengan masalah dalam rumah tangga. Orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Namun, terkadang orang tua gagal mewujudkan keinginannya dan disalahpahami anak. Sikap dan tutur kata orang tua dalam berinteraksi dengan anak menjadi penentu. Dengan tutur kata lembut, tetapi tak mengurangi kewibawaan sebagai orang tua, itu menjadi pelajaran hidup bagi anak. Orang tua adalah guru pertama. Apa yang diajari atau yang tak 'diajari' orang tua selalu direkam dan diaplikasikan sesuai dengan pemahaman anak. Sebagai peniru ulung, menjadikan orang tuanya sebagai sosok idolanya. Maka memosisikan anak dalam norma dan etika Islam akan melahirkan anak yang berkualitas rabbani. Kelembutan dan kasih sayang mesti ditumbuhkan saat berinteraksi dengan mereka. Ada pandangan keliru yang menganggap, pendekatan dengan kelembutan akan melahirkan anak manja dan lemah, pendekatan yang keras melahirkan anak kuat dan berani. Banyak muncul pandangan keliru seperti itu. Maka tak heran jika kita jumpai banyak anak yang kasar dan hatinya keras. Bila dirunut ke belakang di temukan kekasaran dan kekerasan orang tua. Atau sebaliknya, anak menjadi pemurung, atau menarik diri dari pergaulan sosial. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, "Setiap anak yang baru di lahirkan itu lahir dengan membawa fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, dan Nasrani." Dari hadis ini jelas, orang tua begitu sentral dalam 'memahat' anak untuk menjadi apa dan siapa. Oleh sebab itu, jangan pernah salahkan anak ketika dia beranjak dewasa menjadi anak yang kasar dan melawan orang tua, karena itu semua buah dari apa yang ditanam orang tua. Demikian pula jika orang tua memuliakan anak dalam mendidik yang penuh kasih sayang dan perhatian, buah yang akan di petik kelak juga akan ranum dan manis rasanya. Wallahu a'lam. 4112016

KEKUATAN ENERGI ALQURAN

KH HASYIM MUZADI JAKARTA -- Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi bereaksi atas munculnya persoalan dan meluasnya kontroversi berbagai soal kebangsaan terkait soal kasus dugaan pensitaan Alquran Surat Al Maidah ayat 51 yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjaja Purnama. KH Hasyim Muzadi, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam Depok mengatakan memang ada beberapa hal yang membuat isu tersebut menjadi sangat sensitif terkait dengan agama Islam. Dalam release yang dikirimkan kepada Republika.co.id, Rabu pagi (9/10) dia menyatakan pandangannya yang diberi judul 'Kekuatan (Energi) Alquran dan Politisasi'. Isi lengkapnya sebagai berikut: Dikalangan umat Islam seluruh dunia ada tiga hal yang tidak boleh disinggung atau direndahkan yakni : Allah SWT, Rasulullah SAW, dan Kitab suci Al-Quran. Pertama, apabila salah satu dari hal itu, apalagi ketiganya disinggung dan direndahkan pasti mendapat reaksi spontan dari umat islam tanpa disuruh siapapun. Reaksi tersebut akan segera meluas tanpa bisa dibatasi oleh sekat-sekat organisasi, partai, dan birokrasi. Kekuatan energi tersebut akan bergerak dengan sendirinya tanpa dibatasi ruang dan waktu. Kedua, fenomena demo 4 Nopember 2016 tentu secara lahiriah dipimpin oleh beberapa tokoh yang merasa terpanggil untuk membela kesucian kitabnya. Namun jumlah yang hadir membuktikan adanya kekuatan (energi spritiual) yang dahsyat dari pengaruh Al-Quran tersebut. Hal ini dapat dibuktikan para pemimpin yang melakukan demo atau mengumpulkan masa tanpa dorongan spiritualisme tersebut tidak mungkin dapat menggerakan umat yang berjumlah jutaan. Mereka berjalan dengan damai, tertib dan siap untuk berkorban. Sehinga sesungguhnya tidak perlu dicari dalangnya, provokator atau siapa yang membayar. karena provokator dan bayaran setingkat apapun tidak akan mampu menggalang kekuatan tersebut. Yang ada mereka adalah menempel gelombang besar untuk kepentingannya bukan kemampuan menciptakan gelombang itu sendiri. Ketiga, kedahsyatan energi Alquran tersebut hanya bisa dimengerti, dirasakan dan diperjuangkan oleh orang yang memang mengimani Alquran. Tentu sangat sulit untuk diterangkan kepada mereka yang tidak percaya kepada Alquran, berpikiran atheis, sekuler dan liberal. Karena mereka jangan lagi memahami energi Alquran, menerima alquran pun belum tentu bisa. Sehingga perdebatan antara keimanan kepada aquran dan ketidak percayaan kepada Alquran hanya akan melahirkan advokasi bertele-tele dan berbagai macam rekayasa. Keempat, Alquran sebagai kitab suci sekaligus kitab pembeda (Alfurqon) yang membedakan antara yang hak dan yang batil. Maka tidak heran kalau kemudian kelihatan dikalangan umat islam sendiri mana yang bertindak sebagai pejuang, sebagai pengikut perjuangan yang ikhlas tanpa pamrih, yang mengambil posisi memanfaatkan keadaan (kepentingan duniawi sesaat) dan mana yang memang menyelewengkan Alquran. Sedangkan di kalangan non muslim sendiri hanya sangat sedikit yang membuat konflik lintas agama dengan kaum muslimin. Mereka adalah fihak yang sudah basah politisasi dan kapitalisasi ekonomi serta hegemoni kekuasaan. Sedangkan mayoritas mutlak non muslim tetap bersatu bersama kaum muslimin dalam penegakan NKRI

TUJUH ENERGI USAHA DARI ALQURAN

TUJUH ENERGI USAHA DARI AL QUR’AN Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. [Al-Baqarah:200]. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". [Al-Baqarah:201]. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. [Al-Baqarah:202] Dari ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa Al Quran selalu memberi Energi Usaha yang luar biasa agar usaha manusia dalam beriman dan bertaqwa terus tumbuh dan berkembang, makin sehat, makin untung dan bisa nabung atau sedekah Selama ini, kita terus berdoa dan menjalani usaha mungkin merasa masih ada salah. Akhirnya kita merasa hanya mendapat lelah. Lelah berpikir dan lelah berbuat. Akhirnya usaha kita kehabisan energi alias bangkrut. Untung masih ada Al-Quran. Ada sumber energi yang tidak pernah habis memberi inspirasi dan petunjuk (terbarukan), tidak pernah habis Al-Quran terus menerus memberikan energi kepada pembacanya agar terus mampu menjalankan usahanya sampai finish. Di manakah garis finish dari sebuah usaha manusia termasuk dalam menjalani usaha bisnisnya? Dengan jelas Al Quran memberi isyarat kepada kita bahwa tidak ada garis finish dalam usaha kecuali mati dalam keadaan baik Usaha yang sedang kita jalani, apapun bentuknya, sebenarnya bukanlah usaha jangka pendek, namun usaha berkelanjutan jangka panjang dan bermasa depan. Namun begitu, tetap ada target jangka pendek yang setiap saat harus kita capai dan pertanggung jawabkan secara jelas, tercatat dan transparan Energi yang kita gunakan untuk menjalani usaha harus dikelola dengan baik. Dalam menjalankan usaha kita butuh energi kecepatan dalam bergerak. Ketika kita lamban bergerak, maka akan ada entitas usaha lain yang lebih dahulu bergerak mendahului kita. Akibatnya, mereka akan lebih dulu menyentuh pasar, lebih dulu berinovasi dan lebih dulu mencapai apa yang belum kita capai. Kedua konsekuensi itu menuntut kita memiliki energi yang besar dalam usaha. Siapa yang tidak memiliki energi yang besar, kita akan lelah dan jatuh ditengah perjalanan. Namun siapa yang memiliki energi yang besar, kita akan berlari menjalani usahanya hingga garis finish. Apakah kita punya energi yang cukup besar untuk membangun usaha ini terus tumbuh melampaui usia kita? Ataukah energi yang kita miliki saat ini hanya sebatas untuk bayar utang, beli kendaraan, beli rumah dan kesenangan saja? Jika itu sudah terpenuhi, apakah habis energi kita? Jika hanya sebatas itu energi yang kita miliki dalam membangun usaha, maka kita akan kalah dengan para pelaku usaha yang buruk. Energi kita dalam menjalani usaha yang baik sama saja dengan usaha mereka dalam menjalani usaha buruk Ingat, kita belum jauh melangkah. Bagaimana Al-Quran memberi energi usaha yang luar biasa itu kita serap terus agar usaha kita terus tumbuh melampaui batas dunia. Al-Quran menceritakan tentang dua batas energi yang berbeda. Yang satu hanya sebatas sukses usaha dunia saja. Dan satu lagi melampaui batas tidak hanya sukses usaha di dunia, namun juga sukses usaha sampai ke akhirat sesuai dengan energinya masing-masing. Terkait dengan energi usaha, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas, kita bertanya dimanakah batas energi yang kita miliki? Ayat berikut ini menegaskan yang artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali Imran:14] Energi usaha duniawi yang ada pada diri kita, yaitu upaya mendapatkan kesenangan hidup, yaitu seperti energi yang dimiliki kebanyakan orang. Dan karena itu, mereka saling menzalimi di antara mereka dengan melakukan praktek usaha yang cenderung usaha buruk sedemikian rupa. Sampai-sampai Nabi meramalkan bahwa semua umat akhir zaman akan memakan riba atau paling tidak terkena debu-debu riba. Praktek riba (usaha yang buruk) membuat kita terpedaya mengejar ilusi. Kita mengira bahwa uang kertas itulah harta yang bernilai padahal Al-Quran mengatakan bahwa harta sesungguhnya adalah terdiri dari jenis emas dan perak. Al-Quran memberikan energi sukses yang melampau dunia. Perhatikan ayat berikut yang artinya: Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. [Ali Imran:15] Ayat berikutnya memberikan contoh perilaku yang digerakkan oleh energi ilahi, yang artinya, yaitu: (Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," [Ali Imran:16]. (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. [Ali Imran:17] Selanjutnya terkait energi usaha dari Al Quran akan diberikan kepada: Pertama, orang yang selalu menyatakan sikap iman. Sikap ini penting untuk merespon semua teori yang diajukan oleh Al-Quran, bahwa teori-teori itu harus dipraktekkan, termasuk teori-teori tentang bahaya riba dan solusinya. Allah murka kepada orang yang hanya berteori tapi tidak praktek. Perhatikan ayat berikut yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. [Ash-Shaff:2-3] Kedua, orang yang selalu memohon ampun dari dosa dan memohon dipelihara dari azab neraka. Hal ini mencakup dua masa, yaitu masa lalu dan masa depan. Kualitas perilaku ini tidak ada lagi trauma-trauma masa lalu ataupun ketakutan-ketakutan akan masa depan yang menghambat langkah-langkah perbaikan. Mereka penuh optimis akan karunia Allah. Ketiga, orang yang selalu sabar dan tenang, baik sabar menghadapi kegagalan maupun sabar menghadapi kesuksesan. Sabar ketika kekurangan uang maupun kelebihan uang. Sabar ketika sedikit uang banyak yang sukses, namun sabar ketika sedang memiliki banyak uang, di sini banyak yang gagal. Uang mampu merubah gaya hidup seseorang. Mereka yang tidak sabar mengelola uangnya akan terjebak kedalam gaya hidup yang menjerumuskan bisnisnya itu sendiri. Karena sumber energi bisnisnya bukan lagi Al Quran. Begitu juga sabar dalam menjalani proses bisnis. Mereka yang tidak sabar biasanya juga terjerat oleh praktek riba. Keempat, orang yang selalu benar. Benar dalam berkata, berjanji, mempromosikan produk, membuat laporan keuangan tepat waktu, memisahkan keuangan usaha dengan keuangan pribadi, mencatat semua transaksi bisnisnya dengan benar dan jelas, menjalankan bisnisnya dengan benar, dan tidak menipu ataupun berbuat curang demi memperoleh keuntungan bisnis. Hal ini terkait dengan integritas, yaitu ketika kita melaksanakan apa yang kita katakan, dan mengatakan apa yang kita lakukan. Kelima, orang yang selalu taat dalam kondisi apapun. Dan ini soal loyalitas, yaitu ketika kita melakukan integritas itu secara terus-menerus berkesinambungan. Keenam, orang yang selalu berinfaq. Tidak menimbun harta, tetapi membuat harta beredar produktif (wakaf produkdtif; bisnis produktif). Ini penting dalam menopang kelancaran roda perekonomian. Ketujuh, orang yang selalu beristighfar di waktu sahur. Waspada di saat orang lalai. Tentang istighfar sudah sering diingatkan sebagai salah satu pintu utama pembuka rezeki Akhirnya, mari terus menyerap energi illahi dari Al-Quran. Jangan malah bisnis ini melalaikan kita dari membaca Al-Quran dan mengamalkan isinya. Ingat teori Tijarotan lan tabur? Ingat teori bisnis yang tidak akan merugi? Bacalah Al-Quran. Dapatkan energi bisnismu setiap hari dari Al Qur’an yang selalu kau baca dan kau amalkan isinya. Selamat meraih sumber energi Al Quran dan selamat menuju kemandirian ekonomi yang berkemajuan dan berakhlaq baik. Aamiin. Wallohu a’lam. (Drs. H. Jumarudin, MEK PWM DIY// WA: 085743141067)

HATI YANG DIRINDU TUHAN

Bagaimana agar hati selalu rindu Tuhan? Menjadi orang tulus itu sangat sulit. Meski demikian, jangan pernah berhenti untuk berusaha menjadi orang yang tulus, ikhlas, dan berhati putih. Baiklah, jika berbuat baik kepada orang yang membenci kita masih sulit, setidaknya mari kita menahan diri untuk tidak membalas keburukan dengan hal yang sama. Allah SWT apabila mencintai hamba-Nya selalu mengilhamkan kasih sayang, persaudaraan, dan iman yang bercahaya. Hamba yang Ia cintai selalu merasa bahwa hidup di dunia teramat singkat. Sehingga, tidak ada waktu untuk mempermasalahkan sikap buruk orang lain. Hamba yang menjadi kekasih Allah SWT selalu ingin mendapat limpahan kasih sayang-Nya. Hati yang rindu akan Tuhan selalu ingin berbuat baik kepada manusia, tanpa mengharap balasan. Dalam bahasa psikologi, hal ini dinamakan unconditional positive regards (penerimaan positif tanpa syarat). Sedangkan, dalam tataran agama, sikap ini disebut ikhlas. Ikhlas adalah sikap tak mengharap balasan dari manusia. Orang berhati ikhlas akan selalu beribadah, bekerja, dan berkarya semata-mata karena dan untuk Tuhan. Maka, ia tak merasa sedih jika dicaci manusia lainnya, dianggap hina, dan diremehkan. Ia hanya berpusat pada keinginan untuk mencapai ridha Tuhan. Jika seseorang mengalami fase kehidupan beriklim keikhlasan, tak ada alasan bagi dirinya untuk bersedih. Sebab, ia yakin bahwa hidup dan matinya hanya untuk Allah SWT. Ia pun tak merasa sedih dengan ujian sebab ia meyakini bahwa Allah SWT akan meningkatkan derajat takwa bersama dengan musibah yang menimpa. Andai setiap waktu kita merasa rindu pada-Nya, tentu tak ada ruang dan waktu untuk berpaling dari-Nya. Sebab, hati yang rindu Tuhan mendambakan perjumpaan indah dengan-Nya dan itu harus dibayar dengan tiket amal saleh. Hati yang rindu akan Tuhan selalu diliputi kesabaran, ketegaran, dan keteguhan. Ia tidak takut pada siapa pun, kecuali Allah SWT. Meski begitu, rasa tidak takut selain kepada-Nya hanya akan bermetamorfosis menjadi akhlak mulia. Ia tidak takut pada apa saja, tetapi selalu mencoba bersikap penuh kasih dan santun. Sebab, ia yakin bahwa sikap penuh kasih dan santun akan membawa pada keridhaan Tuhan. Akhlak mulia selama di dunia akan menjadi bekal terbaik menghadap-Nya. Hati yang rindu akan Tuhan merupakan hati yang istimewa. Ia akan tetap tenang ketika ujian bertubi-tubi menghantam sebab hati yang tenang menafsirkan ujian sebagai bentuk kasih sayang Tuhan. Hati yang rindu akan Tuhan akan selalu dipayungi kesabaran sebab ia meyakini bahwa kesabaran akan berakhir indah di akhirat. Hati yang rindu akan Tuhan tidak selalu rindu kematian, tetapi ia menghajatkan ridha Tuhan. Hati yang rindu akan Tuhan selalu mengharapkan hidup yang bermanfaat bagi orang lain sehingga pada pengujung usia ia dapat gagah mempertanggungjawabkan segala karunia Tuhan. Mari menjadikan hati selalu rindu pada-Nya dengan menghayati firman-Nya, “Wahai jiwa yang telah mencapai ketenteraman, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS al-Fajr ayat: 27-30). Semoga kita senantiasa memiliki hati yang rindu pada-Nya, hati yang muthmainnah nan indah. Dengan hati yang tenang, hakikatnya kebahagiaan akan teraih, baik di dimensi masa kini maupun dimensi esoteris. Wallahu a'lam

APAKAH HUBUDUNNYA ITU?

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Khotib *) Apa itu Hubbud Dunya? Hubbud dunya adalah cinta dunia secara berlebihan. Cinta yang seperti ini sangat dekat dengan maksiat dan dapat merusak agama. Lantas, bagaimana ciri orang yang cinta dunia? Cirinya, bila seseorang mencintai sesuatu, maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya. Jika orang sudah cinta dunia, maka akan datang berbagai penyakit hati. Ada yang menjadi sombong, dengki, serakah atau capai memikirkan yang tak ada. Makin cinta pada dunia, akan makin serakah, bahkan bisa berbuat keji untuk mendapatkan dunia yang diinginkannya. Pikirannya selalu dunia, pontang panting siang malam mengejar dunia untuk kepentingan dirinya. Ciri lainnya adalah takut kehilangan. Seperti orang yang bersandar ke kursi, maka akan takut sandarannya diambil. Orang yang bersandar ke pangkat atau kedudukan, maka ia akan takut pangkat atau kedudukannya diambil. Karenanya, pecinta dunia itu tak pernah bahagia. Rasulullah yang mulia, walau dunia lekat dan mudah baginya, tapi semua itu tak pernah mencuri hatinya. Misalnya, saat pakaian dan kuda terbaiknya ada yang meminta, beliau memberikannya dengan ringan. Beliau juga pernah menyedekahkan kambing satu lembah. Inilah yang membuat beliau tak pernah berpikir untuk berbuat aniaya. Semua yang ada di langit dan di bumi titipan Allah semata. Kita tak mempunyai apa-apa. Hidup di dunia hanya mampir sebentar saja. Terlahir sebagai bayi, membesar sebentar, menua, dan akhirnya mati. Kita harus meyakini bahwa siapapun yang tak pernah berusaha melepaskan dirinya dari kecintaan terhadap dunia, maka akan sengsara hidupnya karena sumber dari segala fitnah dan kesalahan adalah ketika seseorang begitu mencintai dunia. Semoga Allah mengaruniakan pada kita nikmatnya hidup yang tak terbelenggu oleh dunia. Karena itu, hendaknya sebagai Muslim, kita menjauhi sikap hubbud dunia. Sebab, selain dekat dengan maksiat dan merusak agama juga dapat merusak iman dan amal kita. Bentuk hubbud dunia di antaranya adalah banyak berangan-angan kepada dunia yang gemerlap dan memiliki sifat thoma atau serakah. Sifat serakah ini akan memberikan kehancuran dan sia-sia. Ada sebuah kisah tiga orang pencuri di jaman Nabi Isa as yang berhasil mencuri tiga batang emas. Setelah mencuri, ketiganyapun beristirahat di sebuah gua dan berniat membagikan harta curiannya. Namun, sebelum membagikannya, mereka sepakat untuk makan terlebih dulu. Maka pergilah seorang pencuri ke pasar untuk membeli nasi bungkus. Sifat tamaknya digunaakan syaitan untuk memperdayainya. Ia pun terkena daya upaya syaitan untuk meracuni makanan kedua temannya. Dengan kematian kedua kawannya itu, dia berpikir tidak perlu lagi membagi hasil curian. Di saat yang sama, kedua temannya pun merencanakan pembunuhan dirinya agar hasil curian tersebut tidak perlu dibagi tiga. Keduaanya pun akan memperoleh keuntungan yang lebih banyak. Sesampainya di gua tersebut, si pembeli nasi bungkus dibunuh oleh dua kawannya yang menunggu di gua. Selepas dibunuh, keduanya memutuskan untuk makan dulu. Mereka tidak tahu kalau nasi tersebut sudah diracuni. Apa Hasilnya? Keserakahan membuat ketiga pencuri tersebut mati. Nilah yang dimaksud merusak dan sia-sia. Kisah lainnya, adalah kisah Salabah yaang senantiasa terburu-buru dalam shalat dan enggan berwirid lantaran sarung yang dimilikinya harus dipakai bergantian dengan istrinya di rumah. Ia pun memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar mudah mendapatkan rezeki. Sayangnya, ketika rezeki itu telah dilimpahkan kepada Salabah, ia justru lalai dalam beribadah. Semoga kisah-kisah itu dapat memberikan pelajaran kepada kita semua. *) Pengadministrasi di Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kankemenag Kota Beka