Sunday, September 11, 2011

PASCA RAMADHAN 2011 bersama PERWIRA

Kegiatan PERWIRA JOGJA Pasca Ramadhan 2011 1. Tiap Jum'at ke-1, jam 16-17 (setelah sholat ashar berjamaah) di masjid Al Maruf Ronodigdayan Bausasran Danurejan Jogja (selatan jembatan layang Lempuyangan); pengajian kesehatan ibu ibu 2. Tiap Sabtu, jam: 05-06; di radio MBS 92,7 FM; pengajian dan dialog agama islam 3. Tiap Sabtu, jam: 17-18; di radio SwaraKenangaJogja 774AM; dialog kesehatan alami 4. Tiap Sabtu, jam: 20-21; di radio Kotaperak 94,6FM; dialog agama islam 5. Tiap Minggu, jam: 05-06; di radio Global 106,9FM; dialog agama islam 6. Tiap Selasa & Rabu; jam: 05-06; di radio KR 107,2FM; dialog agama islam 7. Tiap Rabu ke-1&3, jam 07-09 (dhuha; senam; doa ma'tsurat; asmaul husna; dan dialog wirausaha kesehatan) di masjid al fakri petinggen Jl. AM Sangaji 83 Jogja 8. Tiap Rabu, jam: 11-12; di radio Koncotani 772AM; dialog kesehatan alami 9. Tempat lain segera menyusul. ingin kegiatan bersama perwira jogja? Informasi lebih lanjut, silahkan hub: (0274) 740 9515 Pesan Akhir Ramadhan Bersama: P Imron Nurtsani Lc Bergulirnya waktu tak terasa telah menghantarkan kita di pengujung bulan suci Ramadhan. Tamu agung itu kini akan berpamitan meninggalkan kita dengan sejuta pelajaran dan kebaikan sebagai hadiah terbaik bagi kita semua. Deraian air mata kerinduan karena perpisahan dengan tamu agung ini dirasakan oleh umat Islam di seluruh dunia, sebagaimana para sahabat meneteskan air mata kesedihan karena takut tidak bisa bertemu kembali dengannya. Andai Ramadhan bisa berpesan pada kita, maka inilah yang mungkin akan disampaikannya: Pesan pertama: setelah aku pergi, jangan kau lupakan aku (puasa) karena aku akan datang kembali menghampirimu selama 6 hari di bulan Syawal itu tiada lain agar aku dan kamu senantiasa dekat, aku akan lebih dekat lagi ketika kau melaksanakan puasa Senin dan Kamis, atau puasa ayyâmul baidh (tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan qamariyah), puasa Arafah, puasa Asyura, bahkan Rasulullah SAW menganjurkan untuk melaksanakan puasa Daud (sehari berpuasa sehari berbuka). Itu semua tiada lain agar kau selalu mengingatku, sehingga aku pasti menunggumu di pintu ar Rayyân. Pesan kedua: setelah aku pergi, jangan kau biarkan kitab suci Alquran bersampulkan debu, buatlah jadwal agar kamu bisa tetap membacanya seperti sediakala ketika aku ada bersamamu. Ketahuilah bahwa Alquran itu salah satu gizi hatimu, dan Alquran merupakan salah satu yang dapat memberimu syafaat kelak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Puasa dan Alquran itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Sedangkan Alquran akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Maka Allah SWT memperkenankan keduanya memberikan syafa’at.” (HR Imam Ahmad dan Ath-Thabrani). Pesan ketiga: setelah aku pergi, jangan kau tinggalkan shalat malam walaupun kamu sanggup hanya melakukan beberapa rakaat saja, sungguh shalat malam mampu mendekatkanmu dengan Raja-ku. Pesan keempat: setelah aku pergi, jangan kau tinggalkan kebaikan-kebaikan yang sudah kamu lakukan di saat aku ada di sisimu, ketahuilah bahwasanya Raja-ku senantiasa mencintai satu amalan kebaikan yang dilakukan tanpa henti walaupun itu sedikit. Sebagaimana sebuah hadis dari ’Aisyah RA, beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR Muslim). Pesan kelima: saat aku pergi, duhai kasihku Muslimah jangan kau lepaskan kembali jilbabmu, karena di situ kehormatan dan kemuliaanmu terjaga, jangan kau memakainya karena aku, tapi pakailah ia karena Raja ku. Pesan keenam: Kun Rabbâniyyan walâ takun Ramadhâniyyan, jadilah kau insan yang senantiasa beribadah kepada Allah, jangan kau beribadah hanya dibulan Ramadhan saja, karena sungguh Allah itu Tuhan di seluruh waktu. Senin, 29 Agustus 2011; Wallahu A’lam Hadirkan (Kembali) Ramadhan di Hari-harimu; Bersama: Muh Hidayat Dalam beberapa hari terakhir setelah Ramadhan berlalu, saya sering membaca kiriman dari teman-teman di jejaring sosial tentang kesedihan mereka karena ditinggalkan Ramadhan. Ya! Orang beriman mana yang tidak sedih ditinggalkan Ramadhan? Satu bulan mulia yang ternyata berlalu dengan cepat dari hadapan kita. Namun demikian, ditengah kesedihan kita tersebut, bukan berarti setelah Ramadhan berlalu kita secara keseluruhan melepaskan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, dan hanya menyisakan kesedihan karena ditinggalkan Ramadhan. Kalau selama ini kita sering menantikan kehadiran bulan Ramadhan di hari-hari kita, mengapa tidak kita sendiri yang "menjemput"-nya? "Menjemput" bulan Ramadhan? Mungkinkah? Kenapa tidak?! Tentunya yang saya maksud disini bukanlah bulan Hijriyah Ramadhan, melainkan menjemput dan memelihara nilai-nilai yang terkandung paada bulan tersebut. Mengapa demikian? Beberapa alasan yang menyebabkan kita berharap segera datangnya Ramadhan adalah karena banyaknya amalan yang bisa kita lakukan didalamnya dan pahala dari amalan tersebut akan dilipatgandakan sesuai mau-Nya Allah, insya Allah. Jika kita lihat dari segi jumlah, hanya sedikit amalan Ramadhan yang hanya bisa kita lakukan pada bulan tersebut dan tidak bisa kita lakukan pada bulan lain, yaitu: puasa wajib, shalat tarawih, membayar zakat fitrah, dan iktikaf pada 10 malam terakhir. Sisanya: Qiyamul Lail (tahajud dan witir), tilawah Quran, bersedekah, membiasakan sholat rawatib, senyum kepada orang lain, menjaga pandangan, menjaga lidah dari ghibah, memperbanyak berbuat kebaikan dan lain-lain, bukankah amalan-amalan tersebut bisa kita lakukan sepanjang waktu? Oleh karena itu, mari kita "jemput" sendiri amalan-amalan yang dulu sering kita lakukan pada bulan Ramadhan. Jangan sampai kita beranggapan bahwa amalan-amalan tersebut hanya sanggup dilakukan saat Ramadhan, sementara jika Ramadhan berakhir, kita tidak mau lagi melaksanakannya. Bahkan, amalan-amalan tersebut mestinya lebih meningkat saat Ramadhan telah berlalu, baik secara kualitas maupun kuantitas, karena jika demikian, kita telah berhasil menjadikan Ramadhan sebagai bulan tarbiyah (pendidikan) bagi kita semua. Kalau saat Ramadhan kita bisa giat beribadah, mengapa sekarang tidak? Bukanlah urusan pahala adalah haknya Allah? Tugas kita hanyalah ikhtiar dan mempersembahkan amalan terbaik kepada Allah dan disertai dengan do'a tentunya. Selasa, 06 September 2011; Wallahua'lam.

No comments:

Post a Comment