Wednesday, March 1, 2017

TAKMIR MASJID PELAYAN ATAU PENGUASA

TAKMIR MASJID PELAYAN ATAU PENGUASA Dibilang saleh, maunya saya sih takwa. Dibilang sabar, so pasti sohib saya protes. Dibilang baik dan penyayang, nah ini. Istri dan anak-anak saya yang bisa jawab. Termasuk yang kerja di rumah. Sama seperti anda, saya ingin jadi penyabar, baik, dan saleh. Maka seperti soal masjid, saya termasuk pilih-pilih. Saat di rumah, saya cocok Jumatan di Masjid Jami Bintaro Jaya. Untuk dapat shaf sesuai selera, saya mesti jalan pukul 11 teng. Padahal cuma 2 km jaraknya. Ada dua yang menarik dari Masjid Jami Bintaro. Khotib dan imamnya terpilih. Merdunya tajwid imam, selalu antar saya nikmati tiap bacaan. Khutbah Jumatnya tak 'garing'. Pesannya jadi bahan berbenah. Lha masjid belakang rumah gimana? Astaghfirullah, ini dia. Saya pernah imbau suara speaker dikecilkan. Akibatnya saya kena persona nongrata. Karena segala sesuatu tergantung amal, kini saya kikuk Magriban atau Shubuhan di masjid rumah. “Rasain luuuh!” sindir batin saya puas. “Bapak ibu, bada Subuh ini yang studi banding ada empat lembaga,” kata pengurus Masjid Jogokariyan buyarkan lamunan saya. Pagi itu Sabtu, 25 Februari 2017. Ruangan Masjid Jogokariyan penuh. Saya beringsut ke tempat yang tak mudah dikenali. Saya memang curang. Suka memperhatikan tapi tak nyaman diperhatikan. Dulu awal sujud di Masjid Jogokariyan saya kaget. Saat itu yang Tahajud pun berjamaah. Sekitar 15 orang. Yang Tahajud sendiri-sendiri ya banyak. Subuh meluber ke luar. Lantai atas kadang tak mampu tampung jamaah. Secara fisik Masjid Jogokariyan tak istimewa. Malah tak sesuai dengan nama besarnya. Namun, justru kebersahajaan ini yang nyamankan siapa saja. Andai Jogokariyan megah, hanya masjid megah yang berani studi banding. Dialog dimulai. Yang mewakili Jogokariyan cuma satu pengurus. Yang lain sudah bosan mungkin. Memang selama saya sujud di situ, hampir tiap hari ada saja yang studi banding. Entah berapa banyak koleksi buku tamu Masjid Jogokariyan. Sejak awal berdiri, pengurus Jogokariyan sadar diri. “Ini yang jadi ideologi Jogokariyan”, kata pengurus Jogokariyan memulai pengalaman. Keinginan tahu saya makin membuncah-buncah. “Ideologi. Tak salah nih! Kelola masjid saja pakai ideologi segala,” pikir saya. Maka cerita jatuh bangun makmurkan Jogokariyan betot perhatian. Sepanjang kisah, sepanjang itu pula saya berdecak kagum. “Ck... ck... ck... Pantesan. Pantes kalo begitu.” Dari mulai diskusi pukul lima hingga lewat pukul enaman ini, saya coba simpulkan ideologi yang dimaksud. Apa itu? Pengurus Masjid Jogokariyan tegaskan peran, mereka adalah “pelayan dan bukan penguasa”. Jadi pelayan sejak 1967, hasilnya Masjid Jogokariyan betul-betuk makmur. Jika jadi penguasa, bisa jadi masjid hanya bermegah-megahan. Tak beda dengan banyak masjid dimana-mana. Saya sudah longok masjid dari Sabang sampai Merauke. Seperti Jamaah Tabligh, lebih dari 30 tahun saya sujud di banyak masjid. Yang betul-betul makmur cuma di Jogokariyan. Sekalipun dibanding masjid negeri jiran seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, dan Philipina. Sekali lagi apa intinya. Itulah 'pelayan bukan penguasa'. Kesadaran perankan diri sebagai pelayan, ini pilihan di atas rata-rata. Dan 40 tahun jadi pelayan, maka pengurus Jogokariyan paham betul makna 'melayani'. Dimanapun istilah pelayan cuma normatif. Contoh ya kampanye lah. Yel-yel kontestan ingin jadi 'pelayan negeri'. Begitu menang pemilihan, perayaannya tampak jadi 'pemilik negeri'. Setelah duduki jabatan, eh betul-betul jadi 'penguasa negeri'. Jadi penguasa bukan cuma soal negara. Kembali ke masjid, pengurus yang penguasa, jelas berat sambangi warga sekitar. Rakyat atau warga masjid yang datang. Bukan penguasa masjid yang datangi rumah jamaah. Penguasa dimanapun juga dilayani, bukan melayani. Nah, pelayan itu munculkan rasa tanggung jawab, utamakan kewajiban dan bukan hak. “Tanggung jawab dorong untuk lakukan kegiatan apapun demi makmurnya masjid”. Maka bagi saya, pengurus Jogokariyan mengelola masjid seperti mereka mengelola perusahaan. Kereeen! Karena melayani, mereka kelola Masjid Jogokariyan penuh 'sukacita'. Sedang penguasa kelola masjid dengan serba perintah. Di samping penguasa biasanya cuma hargai imam atau khatib. Tapi tidak bagi marbot yang bersih-bersih WC dan tempat wudhu. Banyak masjid yang sudah perankan diri sebagai pelayan. Namun, berapa yang sungguh-sungguh jadi pelayan masjid? Jika belum manjadda, mustahil lahir passion dan tak akan ada istilah 'gue banget' mengelola masjid. Pelayan masjid tahu betul mana jamaah miskin dan kaya. Sedang penguasa masjid senang terima jamaah kaya dan ya begitu deh terima yang miskin. Pelayan masjid akan bantu kesulitan jamaah miskin. Sedang penguasa masjid berpikir lebih hebat ganti kubah masjid daripada bantu kesulitan jamaahnya yang miskin. Pelayan masjid bukan hanya terima, malah cari masukan agar masjid jadi dicintai warga. Penguasa masjid mustahil cari masukan dari warga sekitar. Malah usulan pun dianggap sok ajari sang penguasa. Penguasa itu bukan cuma soal negara. Bahkan di lembaga sosial muncul 'rasa penguasa'. Pelayan tahu betul uang dari mana dan untuk apa. Penguasa lembaga sosial tak mau tahu. Baginya membuat program adalah untuk kedashyatan diri. Maka program pun disiasahi katanya untuk mustahik. Padahal? SUMBER: Erie Sudewo, Pendiri Dompet Duafa; 3-3-2017

No comments:

Post a Comment